Tembang ‘Pantun Janda’ Dendang Pemilu dan Pilpres 2024

Ajang Pemilu – Pilpres 2024 juga mesti dimanfaatkan oleh rakyat dan parti politik untuk sungguh memilih para wakil rakyat yang konsisten (tidak mengubah fungsi jadi wali rakyat) di tengah jalan, dan pemimpin berkualitas negarawan. Bukan sekadar petinggi politisi yang saling menyandera. Sehingga mampu berkontestasi secara kualitatif, agar kelak negara mampu dan berani berkompetisi kualitatif dengan negara – bangsa lain di dunia.

Bang Sem

PERJALANAN dari Sampang ke Surabaya, melintas malam, sambil setengah terkantuk, lumayan menghibur saya. Santri yang menghantar, sambil mengemudikan mobil, memutarkan sejumlah Melayu karya Abdul Hadi Mahdhami (Ami Hadi). Antara lain, Pantun Janda.

Belakangan lagu-lagu tersebut tular (viral), ketika kelompok musik El Corona mempopulerkannya lewat single mereka selama masa pandemi nanomonster Covid 19. Sebelumnya saya sering menikmatinya dari koleksi lagu-lagu asli yang didendangkan langsung oleh Ami Hadi. Juga sajian Serojacoustic.

Lirik lagu sederhana dengan pola pantun empat kerat dengan sanjak a-b-a-b dan a-a-a-a itu enak didengar berisi pesan-pesan khas yang menghibur.

Dengan konsep musikal melayu dasar dengan ritme dinamis ditingkah gambus (oud) dengan hentak gendang, jika disajikan secara live, segera mengundang penikmatnya berjoget. Termasuk joget gaya a la zapin.

Begini lirik lagu Pantun Janda, itu:

hidup di dunia, hidup di dunia jangan kau lupa / apa dimaksud, apa dimaksud semua ada
pilih yang gadis, pilih yang gadis atau yang janda / yang penting, yang penting hidup bahagia
pilih yang gadis, pilih yang gadis atau yang janda / yang penting, yang penting hidup bahagia

pilih istri, pilih istri yang sederhana / dapat mengerti, dapat mengerti dalam agama
yang tak berani, yang tak berani keluar rumah / sebelum ijin, sebelum ijin dari suaminya
yang tak berani, yang tak berani keluar rumah / sebelum ijin, sebelum ijin dari suaminya

bagaimana, bagaimana menggoreng peda / ambil minyaknya, ambil minyaknya tuang tuangkan
bagaimana, bagaimana merayu janda / ambil anaknya, ambil anaknya timang timangkan
bagaimana, bagaimana merayu janda / ambil anaknya, ambil anaknya timang timangkan

kampung krukut, kampung krukut di pinggir kali / anak cina, anak cina berkawan kawan
hati takut hati takut jadi berani / lihat janda, lihat janda kayak perawan
hati takut hati takut jadi berani / lihat janda lihat janda kayak perawan

kuda yang mana, kuda yang mana tuan senangi / kuda yang putih, kuda yang putih di dalam kandang
janda yang mana, janda yang mana tuan senangi / janda yang putih, janda yang putih berambut panjang
janda yang mana, janda yang mana tuan senangi / janda yang putih janda yang putih, berambut panjang

naik sepeda, naik sepeda mati lampunya / jalan terus, jalan terus lambat sampenya
ada janda, ada janda mati lakinya / mau dilamar, mau dilamar banyak anaknya
ada janda, ada janda mati lakinya / mau dilamar, mau dilamar banyak anaknya

kucing kurus, kucing kurus mandi dipapan / papan dibawa, papan dibawa dari marunda
badan kurus, badan kurus bukan tak makan / kurus mikirin si janda muda
badan kurus, badan kurus bukan tak makan / kurus mikirin si janda muda

Suasana interaksi Prabowo Subianto salah satu bakal calon kontestan Pilpres 2024 dengan pendukungnya | khas

Memperjuangkan Kebahagiaan

Sambil terkantuk-kantuk sepanjang jalan, saya membayangkan dendang irama musik melayu ini boleh dipahami dan dipelajari baik oleh para petugas partai yang mengurusi pemenangan Pemilu – Pilpres dan para caleg, termasuk para kontestan pemilihan calon-calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang kadung menyebut dirinya senator. Tanpa kecuali tim sukses dan relawan (khasnya yang sungguh relawan).

Tentu dengan catatan, bila hendak mengubah lirik untuk kepentingan kampanye, minta idzin atau memberitahu dulu penggubah lirik dan lagu aslinya. Sesuai standar etika yang diatur oleh undang undang tentang hak atas kekayaan intelektual.

Amsalkanlah para caleg atau capres kelak laksana gadis atau janda yang pantas dan patut dipinang untuk menerima amanah untuk berjuang mengelola negara dan bangsa, supaya rakyat mencapai hidup bahagia dan sejahtera.

Pasalnya, indeks kebahagiaan Indonesia (2022) — hasil penelitian Gallup World Poll di 137 negara — masih berada pada urutan ke 84 di dunia, dengan rata-rata skor kebahagiaan sebesar 5,277 poin, setara dengan Albania. Di Asia Tenggara, indeks kebahagiaan rakyat Indonesia ada pada posisi ke 4 (di bawah Vietnam dan Filipina, di atas Laos, Kaboja, dan Myanmar).

Maknanya, ajang Pemilu dan Pilpres 2024 boleh diharapkan menjadi ajang oleh kreatif dan inovasi untuk ajang adu rekam jejak, visioneering, sekaligus kemampuan merumuskan dan menghadapi tantangan, menciptakan peluang, mengenali dan memetakan kelemahan (minimal dalam hal mengelola demokrasi untuk kesejahteraan, keadilan, kemanusiaan, kepribadian dalam keberadaban), sehingga mampu merumuskan kekuatan untuk sungguh menjadi negara – bangsa besar senyatanya. Sekaligus punya nation dignity dalam pergaulan dunia.

Pemilu dan Pilpres 2024 juga mesti menjadi ajang kontestasi merancang dan mewujudkan peradaban baru, sebagai negara bangsa berkebudayaan dan berkemajuan. Negara dan bangsa yang menjunjung etika dalam seluruh aspek kehidupan dan praktik penyelenggaraan negara dan pemerintahan. Paling tidak menegakkan prinsip tidak melanggar malima (main, madat, mabuk, madon, mateni) yang pertamakali diajarkan oleh Sunan Ampel.

Suasana pertemuan salah satu bakal calon kontestan Pilpres 2024, Ganjar Pranowo dengan relawannya | khas

Tak Seindah Wajah

Ajang Pemilu – Pilpres 2024 juga mesti dimanfaatkan oleh rakyat dan parti politik untuk sungguh memilih para wakil rakyat yang konsisten (tidak mengubah fungsi jadi wali rakyat) di tengah jalan, dan pemimpin berkualitas negarawan. Bukan sekadar petinggi politisi yang saling menyandera. Sehingga mampu berkontestasi secara kualitatif, agar kelak negara mampu dan berani berkompetisi kualitatif dengan negara – bangsa lain di dunia.

Maknanya, Pemilu dan Pilpres 2024 menjadi ajang untuk menjadikan negara bangsa yang berwibawa dan mempunyai posisi sebagai subyek dengan formula khas dalam memilih sekaligus menentukan mitra, termasuk investor (penanam modal luar negeri) dalam memajukan perekonomian berbasis sains dan teknologi. Laksana memilih ‘janda yang putih berambut panjang.’

Kita memerlukan wakil rakyat dan pemimpin nasional yang sungguh paham dalam memilih mitra serta mempunyai strategi jitu. Tak sekedar terpincut, seperti lelaki terpincut ‘janda mati lakinya’ yang ternyata banyak anaknya. Melainkan teliti dan jeli, agar beroleh mitra bak ‘janda kayajk perawan.’ Mitra yang boleh dihampiri dengan taktik, ‘ambil anaknya timang-timangkan.’ Tentu melalui berbagai formula dan platform diplomasi politik, ekonomi, dan budaya.

Kita perlu wakil rakyat dan pemimpin nasional yang bernas dan tangkas untuk mendahulukan kepentingan rakyat, bukan kepentingan kelompok dan golongan. Agar rakyat tak kurus, lantaran ‘mikirin si janda muda.’ Alias kelompok dan kepentingan, termasuk mitra dan kolega yang memikat, sambil menebar jaring kolusi dan korupsi.

Dalam keseluruhan konteks itulah, ajang Pemilu dan Pilpres 2024 kudu menjadi ajang pendidikan politik bagi rakyat, untuk sungguh tidak menjual murah kedaulatannya. Apalagi dengan politik praktis pragmatis berbasis politik transaksional yang sangat menghinakan harkat, martabat, dan daulat rakyat.

Terlalu murah harga kedaulatan yang tercermin dalam suara saat pelaksanaan Pemilu dan Pilpres 2024 yang hanya ditukar dengan janji hampa, sembako, dan uang receh. Apalagi di ajang Pemilu dan Pilpres 2024, semua kontestan gemar mematut wajah dengan beragam pupur dan gincu. Karenanya, rakyat kudu paham hakikat, realitas tak seindah wajah. Sepeti syair lagu MS Salim (Tak Seindah Wajah).

Begini liriknya:

Ku sangka aur di pingir tebing / Kiranya tebu di pinggir bibir
Ku sangka jujur pancaran batin / Rupanya palsu penghias zahir
Ku kira hati jiwa nurani / Suci seindah wajah terbayang
Ku kira puji seikhlas budi / Ku lupa lidah tidak bertulang

Di manis gula semut binasa / Kail berduri bersalut umpan
Di manis kata insan terlena / Kerana budi hamba terkorban
Inikah dia lakonan hidup / Di pentas dunia insan berpura
Tipu dan daya pencapai maksud / Budi dan harta merangkum noda

Tipu dan daya pencapai maksud / Budi dan harta merangkum noda. |

Posted in LITERA.