Patut disyukuri, Pra-Kongres dapat merampungkan berbagai rancangan materi dan ketetapan yang akan dibawa ke Kongres (konon direncanakan 9 Juni 2023) kelak. Baik Rancangan Kaidah, Keputusan, Ketetapan, dan Kepemimpinan Adat, serta rekomendasi Majelis Kaum Betawi. Tentu kelak MAPKB akan pula berubah menjadi MAKB (Majelis Amanah Kaum Betawi). Kita pun berharap, segala gerak positif ikhtiar baik yang dilakukan dengan cara yang baik dan benar akan berbuah maksimal. Tentu dengan diikuti oleh perubahan minda tentang format, tata kelola dan peningkatan kualitas organisasi kemasyarakat (ormas) kaum Betawi sesuai dengan bidang kompetensi dan sentra kepedulian (focal concern) masing-masing.
Catatan Lepas Bang Sèm
Saya gembira sekaligus bahagia ketika berada di perhelatan Pra Kongres Kaum Betawi di Ecovention – Ancol, Sabtu (13/5/23).
Di forum yang digelar Majelis Amanat Persatuan Kaum Betawi (MAPKB) pimpinan H. Marullah Matali yang mengusung sesanti, “Bersatu untuk Maju” tersebut, teresonansi asa dan aspirasi kaum Betawi.
Sikap dan watak tetua kaum Betawi H. Eddy Nalapraya yang sudah berada di lokasi pada pukul 08.00 wib sesuai undangan, adalah contoh keteladanan tentang tepat waktu.
Pada orang tua berusia 92 tahun yang dihormati, itu teresonansi nilai asasi perubahan tentang waktu. Tak kan pernah terjadi perubahan baik, tanpa konsistensi pada waktu. Khasnya, karena waktu merupakan sesuatu di dunia yang tak pernah bisa di daur-ulang.
Kaum dan bangsa yang besar di seantero dunia, mampu berjaya melakukan proses transformasi — mengubah nasib — karena tidak pernah bermain-main dengan waktu.
Kaum Betawi yang identik dengan Islam, semestinya berpandu pada H. Eddy Nalapraya soal waktu sebagai suatu titik berat dalam mengatur kehidupan dan waktu.
Para orang tua – terutama Kyai dan Ulama di kalangan kaum Betawi – sejak masa silam mengajarkan, waktu (terutama waktu salat) mencerminkan manajemen kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam siklus kehidupan sehari-hari ditaur sedemikian rapi dimensi waktu.
Kapan waktu untuk salat, menunaikan kewajiban utama mencari nafkah, mengaji, berinteraksi dan menghidupkan silaturrahmi, makan, berbisnis, bersenang-senang, dan tidur, telah diatur sedemikian rupa secara alamiah.
Mereka juga mengajarkan ihwal waktu untuk aspek sosial dan keluarga dalam hidup kita. Pendidikan dan pengajaran tentang bagaimana memprogramkan diri ke dalam gaya hidup yang disiplin dan seimbang.
Siapa konsisten pada tepat waktu, jadual dan agenda, akan beroleh kemudahan dalam berinteraksi dengan takdir yang baik yang akan mengubah nasib. Karena waktu bertalian dengan prioritas.

H. Eddy Marzuki Nalapraya bersama H. Marullah Matali dan H. Muhammad Ihsan. Panutan kaum Betawi yang disiplin dengan waktu | setyohadi
Pendidikan dan pengajaran tentang waktu tersebut bertalian dengan manifestasi kecerdasan insaniah dalam memperbaiki mata pencaharian, profesi, penguatan spiritual, dan merayakan sukacita kehidupan dengan cara yang halal.
Saya berandai-andai dalam sembang-sembang dengan pimpinan Gerbang Betawi (dr. Chairil Anwar dan Abu Sudja) yang duduk bersama saya, kelak kaum Betawi terbilang sebagai kaum terdepan dalam menunaikan sesuatu secara tepat waktu.
Kearifan dan Kecerdasan Betawi
Penyelenggaraan perhelatan kaum Betawi itu, juga memantik harapan tersendiri, ketika Ketua Panitia Pelaksana H. Riano P. Ahmad dan Ketua Panitia Pengarah H. Zainuddin memanifestasikan kesadaran adab Betawi ihwal kolaborasi dan sinergi secara fungsional.
Senang juga hati ini melihat wajah ceria Imam Besar Forum Betawi Rempug (FBR) KH Luthfi yang selama ini telah menunjukkan transformasi substantif ormas (organisasi kemasyarakatan) yang dipimpinnya. Perasaan yang sama juga mengalir di dalam diri, menyaksikan Ketua Umum DPP FORKABI (Forum Komunikasi Anak Betawi), H. Muhammad Ihsan.

Perempuan Betawi bagian integral dan pemajuan dan penguatan muru’ah kaum Betawi | setyohadi
Rasa yang sama juga menjalar menyaksikan H. Chevy Rasyid, KH Ahmad Jaelani, H. Sarnadi Adam, H. Andi Sopandi, H. Rozali, H. Zamakhsari, Hj. Ida Wara, H. Damin Sada, dan lainnya dari generasi transisi kaum Betawi tampak ceria.
Kebahagiaan kian menjalar, menyaksikan generasi yang menjadi energizer Betawi, seperti H. Beki Mardani, H. Husni Hasanuddin, H. Azis Kafia, Muhammad Sulhi, Boim Ridwan, Mola, Abdul Salam, Hadi, H. Basir Bustomi, dan lainnya memainkan peran strategis dalam menyiapkan berbagai hal di balik perhelatan tersebut.
Wajar jadinya, kala Ketua MAPKB H. Marullah Matali menyebut penyelenggaraan Pra-Kongres tersebut sebagai momentum sangat penting bagi kaum Betawi dalam merespon perubahan. Terutama dalam merespon perubahan Daerah Khusus Ibukota Jakarta menjadi Daerah Khusus Jakarta, sebagai konsekuensi logis terbitnya Undang Undang No.3 Tahun 2022, tentang Ibukota Negara.
Bila Marullah Matali menyebut, perhelatan tersebut sebagai ekspresi kearifan kaum Betawi, saya ingin menegaskan, suasana yang mengalir pada perhelatan tersebut adalah padu-padan kearifan dengan kecerdasan kaum Betawi dalam merespon dinamika yang berkembang, sekaligus ekspresi ikhtiar terus menerus menegaskan muru’ah kaum Betawi.

H. Zainuddin, KH Luthfi Hakim, H. Marullah Matali, dan H. Riano P. Achmad | setyohadi
Kata kuncinya adalah spirit yang dihidupkan oleh ghirah dan gairah kaum Betawi dalam meneruskan dimensi peran strategisnya dalam seluruh konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Apalagi, Marullah juga memberi isyarat ihwal kemandirian substantif dan proporsional kaum Betawi kini dan esok. Mandiri dalam harmoni, laksana pemain gambang kromong memainkan instrumen musikalnya menghadirkan harmoni nada – irama estetis.
Majelis Amanat Kaum Betawi
Saya mengapresiasi segala ikhtiar yang dilakukan semua kalangan kaum Betawi di dalam dan di luar struktur formal, yang disebut Marullah telah berhasil memasukkan beberapa butir hasrat dan kepentingan kaum Betawi dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Daerah Khusus Jakarta.
Saya berharap, kelak di dalam UU tentang DK Jakarta, konstelasi kaum dan budaya Betawi sungguh berada dalam pasal-pasal substantif. Tak lagi hanya sebagai embel-embel sebagaimana tersirat dan tersurat dalam Undang Undang No. 8 Tahun 2007. Termasuk perencanaan karir kepegawaian dan kepemimpinan kaum Betawi (berprestasi, layak dan patut) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jakarta. Tanpa kecuali pernyataan tersurat dalam undang-undang ihwal kepemimpinan Pemerintah Provinsi DK Jakarta.

H. Zamakhsari, H. Zaenuddin, dan H. Chevy Rasyid. Tiga sosok (mewakili berbagai tokoh) yang konsisten menggerakkan kesadaran ke-Betawi-an | setyohadi
Saya juga mengapresiasi spirit dan inisiatif MAPKB melakukan penyempurnaan Peraturan Daerah No. 4 Tahun 2015 sesuai dengan amanat UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan Pokok-pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Jakarta, dengan secara eksplisit meletakkan kosa kata pemajuan kebudayaan (dalam skala makro dan mikro).
Patut disyukuri, Pra-Kongres dapat merampungkan berbagai rancangan materi dan ketetapan yang akan dibawa ke Kongres (konon direncanakan 9 Juni 2023) kelak. Baik Rancangan Kaidah, Keputusan, Ketetapan, dan Kepemimpinan Adat, serta rekomendasi Majelis Kaum Betawi. Tentu kelak MAPKB akan pula berubah menjadi MAKB (Majelis Amanah Kaum Betawi).
Kita pun berharap, segala gerak positif ikhtiar baik yang dilakukan dengan cara yang baik dan benar akan berbuah maksimal. Tentu dengan diikuti oleh perubahan minda tentang format, tata kelola dan peningkatan kualitas organisasi kemasyarakat (ormas) kaum Betawi sesuai dengan bidang kompetensi dan sentra kepedulian (focal concern) masing-masing.
Kita syukuri gairah dan ghirah dalam spirit kaum Betawi di Ecovention – Ancol melakukan transformasi besar untuk sungguh menempatkan Betawi sebagai kaum yang bernas, egaliter – kosmopolit, tangkas – terpercaya, akseleratif, waham (cerdas sekaligus arif), dan mempunyai integritas.
bocah santri membaca rawi
risalah utama nabi Muhammad
tekad terpatri memajukan kaum Betawi
berpedoman agama teguh berkhidmad
***
