Mengenang BK : Dengan Kesederhanaan Menolong Banyak Mahasiswa

Seringkali menyimak pendapat orang lain, ungkap BK, memperkaya pengetahuan dan wawasan kita. Termasuk mengoreksi pandangan kita tentang sesuatu, karena zaman berubah, pengetahuan anak-anak muda atau orang yang lebih muda, lebih segar dibandingkan dengan pengetahuan para senior yang tua-tua. “Dengerin baek-baek waktu orang ngomong. Bersikaplah berani mendengar dan menyimak,” ungkap BK. Dia risau, menyaksikan terlalu banyak dalam pergaulan sehari-hari. Kita acuh, ketika seseorang berbicara di depan kita. Sibuk sendiri dengan handphone. Gak berani bilang, ‘ma’af, ada pesan yang mesti dijawab segera.’ Padahal, keberanian menyimak pendapat orang  suatu saat, bakal berbalik ke kita,” ungkapnya.

UJUNG pekan yang berselubung duka. Sabtu (26/9/26)  pukul 21.00, seorang sahabat, Haji Bung Karmin Durin (BK) berpulang ke haribaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam usia 75 tahun. Ahad keesokan harinya, selepas dzuhur jenasah Allahyarham dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo.

Bagi Allahyarham yang biasa dipanggil BK, tak ada hal lain yang bisa diungkap-ceritakan, kecuali kebaikan. Gairah dan Ghirahnya beraktivitas dan berjuang di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sungguh amat patut dihormati dan dikenang.

Tokoh buruh muslim, aktivis mahasiswa – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) — dekade 70-an, sangat ramai dikenal sebagai alumni yang mempunyai jejaring silaturrahmi dan persahabatan yang luas.

Benar kata Yuyon Ali Fahmi, mantan aktivis HMI asal Jember yang berkiprah di tingkat nasional, selain luas silaturrahmi dan persahabatan, Allahyarham juga sosok teladan ihwal kesahajaan.

Mantan Ketua HMI Rayon Menteng, Jakarta ini kemudian dikenal luas, karena berkiprah di tingkat nasional. Ia salah seorang aktivis dan alumni HMI yang nyaris tak pernah absen hadir dalam berbagai forum HMI dan KAHMI (Korps Alumni HMI). Baik forum resmi, seperti Kongres, pengajian, pengkajian, jalan sehat, camping, dan lainnya.

BK yang sejak muda berwirausaha, ia dikenang sebagai peniaga teladan di bidang percetakan dan jasa pengetikan skripsi. Di kedainya yang terletak di pasar sudut jalan Matraman – Pramuka, banyak kebaikan yang ditabur-semaikannya sebagai tabungan akhirat.

Lewat usahanya tersebut, tak terbilang berapa banyak sudah aktivis yang menyelesaikan proses studinya menjadi sarjana. Pun, tak terbilang berapa banyak buah pikir, hasil studi dan penelitian para mahasiswa anggota HMI / KAHMI. Lantas, di antara mereka kini mengemban amanah sebagai pejabat.

Selang beberapa hari setelah pemakaman Allahyarham BK, Imam Soenhardjo, mantan anggota PB HMI dan anggota Lembaga Sensor Film (LSF) mengingatkan ihwal beragam pandangan para sobat tentang Bung Karmin yang belum tpublikasi beberapa tahun lalu. .

“Aktivitasnya sebagai pengusaha percetakan — sebagaimana lazimnya Urang Awak — menjadi alamat yang tepat bagi ‘adik-adik’ (pengurus dan anggota HMI) untuk memesan barang cetakan ini dan itu. “Syukur-syukur kalau dibayar lunas. Atau dibayar tapi uangnya kurang,” ujar Imam.

Bung Karmin dengan Uni Tir, istrinya. “Suami itu mengayomi dan melindungi istri” | porisa

Bukan Pejabat, Tak Sekedar Memberi Nasihat

Belakangan ungkap Imam, kehadiran ‘adik-adik’ ke BK  — bukan lagi kehadiran BK ke Dipo (sekretariat PB HMI di Jalan Diponegoro – Jakarta) – bukan cuma urusan cetak mencetak, tapi juga ke urusan tiket.

Walaupun BK bukan pejabat, datang ke BK memang sebuah solusi. Mungkin tiket pesawat sekelas harga promo untuk jarak yang tak terlalu jauh, atau tiket kereta untuk seputar Jawa, atau tiket bus malam antar pulau. “Yang pasti tak pulang dengan tangan hampa. BK tak tega melihat ‘adik-adiknya’ pulang dengan wajah sedih,” kisahnya lagi.

Wajah Allahyarham BK, seolah hadir, ketika belakangan hari,  media massa, khasnya media sosial mengungkap kurangnya adab di negeri ini. Mulai dari petinggi negeri sampai dan bagaimana mereka mempertontonkan bagaimana kehidupan tanpa adab, kehilangan tata krama, dan menyaksikan bagaimana akhlak direduksi.

Apa jadinya kehidupan manusia tanpa adab? Adab, katanya, sedemikian penting dalam kehidupan manusia sehari-hari, karena di dalam ada ada cinta dan kasih sayang sebagai sumber kemanusiaan. Di dalam adab ada kesadaran untuk bersyukur kepada Tuhan yang mewujud dalam rasa hormat kepada orang lain. Adab bukan sebatas manner, tata krama dan sopan santun, namun dari perilaku BK kita hal lain.

Tata krama berpadu-padan dengan kesantunan sosial, laku hidup tak cukup hanya menunjukkan kesopanan artifisial, yang dipelajari sejak masa kanan-kanan, seperti melepassiku dari meja, dan menghormati yang lebih tua dengan langsung menatap mata dalam pandangan hormat kepada mereka saat berbicara.

Adab, mengacu pada perilaku sosial yang sopan, rendah hati, penuh hormat, dan berbudaya. Keperluan terhadap adab mulai dari yang paling sederhana, tata krama, mengemuka, karena terlalu banyak manusia mengalami degradasi nilai dalam proses interaksi satu dengan lain.

Padahal, dalam interaksi sosial yang modern dan menunjukkan peradaban maju, seperti kata – kata sederhana, “permisi” atau “maafkan saya,” adalah sesuatu yang penting.

Dalam konteks BK, adab sebagai gold regulation dalam kehidupan manusia yang dihidupkan oleh agama dan budaya, dianggap tak lagi penting. Bahkan di negeri-negeri yang semula terkenal karena adabnya yang mulia. Belakangan keberadaban kian tergelincir dalam aneka laku kebiadaban. Banyak manusia terpelanting dan tak berdaya dalam pusaran arus politik saling jegal dan saling menjatuhkan.

Kerisauan BK akan surutnya adab terungkap jua dari celah bicara. Lelaki baya asal desa Sulit Air – Solok, Sumatera Barat, yang beberapa (Februari 2026) genap 75 tahun. Bung Karmin Durin, namanya. Tapi, saya dan teman – teman biasa memanggilnya BK .

Allahyarham Bung Karmin sentiasa bercengkerama dengan istrinya | porisagaga

Rayonnya HMI-wati Molek

BK sangat terkenal di lingkungan HMI sejak dekade 1970-an, ketika ia memimpin Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Rayon Menteng, sebelum kemudian aktif di Pengurus Besar organisasi mahasiswa Islam yang didirikan di Jogjakarta, 5 Februari 1947 oleh Lafran Pane, dan kawan-kawan.

Rayon adalah satuan organisasi HMI di masyarakat yang menghimpun anggota dari berbagai komisaritas di perguruan tinggi yang berdomisili di suatu kawasan. Di Jakarta, Rayon Menteng adalah satuan organisasi yang bergengsi dalam konteks sosio habitus dan gaya hidup. Agak berbeda dengan rayon lain yang menonjol dan bergengsi secara ideologis dan militansi.

Di rayon ini berhimpun sejumlah HMI-wati yang cantik, cerdas dan datang dari kalangan urban dan metropolis, meski bermarkas di ruang sekretariat tak besar, pojok kanan halaman sekretariat HMI Cabang Jakarta di Jalan Cilosari 17, Cikini, Jakarta Pusat.

Setiap hari Jum’at, hari para kader HMI Jakarta untuk salat Jum’at dan berbagai aktivitas lain, termasuk merancang dan mengevaluasi program pelatihan kader, mereka yang nongkrong di Rayon Menteng, bilangannya selalu lebih banyak. Bahkan, kader dari rayon lain, bergabung di sini.

BK dipilih aklamasi untuk Ketua Rayon Menteng, setelah kepemimpinan Ibin Sobirin, karibnya. Ya.. karena perangainya yang sangat beradab. Ia sosok dengan tampilan tata krama dan komunikasi personal yang memikat di masa itu.

Lantas, ia menjadi sosok santun yang memilih jalan moderat, dan acapkali memediasi kader dengan aneka cara sehingga nyaman aktif di dalam HMI yang hangat, mesra, dan intim ditopang sikap hormat menghormati perbedaan,  mampu menyelesaikan masalah, dan punya Integritas diri di tengah pergaulan antar mahasiswa.

Dengan perangainya, BK mampu menciptakan suasana yang gembira. Bila muncul friksi antar kader, BK memediasi dengan cara unik. Memetik nilai plus masing-masing kader. Meminjam istilah yang dipakai Capone, BK memilih signifikansi utama interaksi sosial untuk tidak menjatuhkan orang lain.

Dengan cara demikian, beragam aspirasi kader bertemu dalam suasana hangat, mesra, dan intim. Ini yang kemudian membuiat nama BK populer di lingkungan HMI, karena kerap menghadirkan perangai baiknya acapkal menghadiri kegiatan HMI, terutama dies natalis dan kongres.

BK populer bukan karena posisinya, tak juga karena ketokohannya. Kesungguhannya mengemban amanah dan tanggungjawab, abadi di kalangan kolega sejak masa itu hingga kini.

“Alhamdulillah, saya kenal BK sejak beliau Ketua HMI Rayon Menteng. Beliau bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas dan tanggungjawab, berlaku baik kepada orang-orang di sekitarnya dan tidak pernah marah,” ungkap Darul Siska, politisi mantan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar).

Nasihat Allahyarham: “Untuk merawat kader, tak perlu mentor. Jangan terlalu mencampuri urusan yunior dalam segala hal. Utamanya politik.” | porisagaga

Menyimak Lawan Bicara

Salah satu hal ‘berlaku baik’ itu, senantiasa tertampak pada sikap BK menghormati privasi, pendapat, dan hak orang lain, mengemuka pada dirinya. Dalam komunikasi dan interaksi personal atau sosial, BK pandai mengendalikan diri, menyimak.

Dia tidak berusaha  mendominasi setiap percakapan. “Kita musti menghormati orang, walaupun usianya lebih muda,” ujar BK suatu ketika. “Kebenaran tidak hanya milik mereka yang lebih tua,” tuturnya. Jadi? “Tua dan muda hanya urusan usia dan pengalaman. Bukan urusan kebenaran dan pengetahuan.”

Adab, menurut BK, menunjukkan siapa diri kita sesungguhnya. Adab yang paling sederhana bisa dilakukan adalah menyimak pendapat orang dengan baik, kemudian meresponnya secara wajar. Secukupnya. Tidak untuk mereduksi, apalagi merendahkan orang lain, tetapi untuk melengkapi.

Dalam berorganisasi, pun demikian. “Gak perlu bersikap mentang-mentang kita tua’an, lantas lantas menganggap pendapat dan pikiran kita yang benar,” cetus BK.

Seringkali menyimak pendapat orang lain, ungkap BK, memperkaya pengetahuan dan wawasan kita. Termasuk mengoreksi pandangan kita tentang sesuatu, karena zaman berubah, pengetahuan anak-anak muda atau orang yang lebih muda, lebih segar dibandingkan dengan pengetahuan para senior yang tua-tua. “Dengerin baek-baek waktu orang ngomong. Bersikaplah berani mendengar dan menyimak,” ungkap BK.

Dia risau, menyaksikan terlalu banyak dalam pergaulan sehari-hari. Kita acuh, ketika seseorang berbicara di depan kita. Sibuk sendiri dengan handphone. Gak berani bilang, ‘ma’af, ada pesan yang mesti dijawab segera.’ Padahal, keberanian menyimak pendapat orang  suatu saat, bakal berbalik ke kita,” ungkapnya.

Teknologi di abad ini, sering mengurangi kesopanan dan adab kita, padahal setinggi apapun ilmu pengetahuan dan secanggih apapun teknologi, pasti punya kelemahan.  Di situ, lagi-lagi dalam konteks hubungan antar manusia, adab menjadi penting dan utama. Sesuai prinsip, “Anak ikan dimakan ikan, gadang ditabek anak tenggiri. Ameh bukan perakpun bukan, budi saketek rang haragoi.”

BK juga pernah aktif di KNPI, bahkan mengikuti penataran P4 – Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila di era Orde Baru. Lewat penataran ini juga di berkunjung ke Istana Merdeka dan berjabatan tangan dengan Presiden Soeharto.

Tapi, bukan itu benar yang hendak dia ungkap, pasal kejernihan mata. menikmati bubur Manado olahan Kasmawati Kasim Marewa – anggota FORHATI (Forum Alumni HMI-wati) nasional asal Kendari. di food court Gelanggang Olah Raga Bung Karno (GBK) , Senayan, Jakarta.

Tawa Allahyarham Bung Karmin | “Para senior banyaklah menyimak yunior.. seringkali mereka lebih piawai..” | porisagaga

Antara Kebenaran dan Pembenaran

Belakangan hari BK agak risau, lantaran informasi yang beragam melalui berbagai media, terutama media sosial. Informasi, yang menurutnya membuat mata menjadi rabun melihat realitas kehidupan sosial sehari-hari. Musababnya, terlalu banyak hal yang membuat mata menjadi rabun. Tak bisa membedakan mana kebenaran dan rekayasa kebenaran, alias pembenaran.

Hal tersebut membuat BK sebagai sosok senior yang amat memelihara adab, asdanya terasakan. “Bang BK selalu menelepon saya, setiap akan ke sini,” ujar Kasma. Di kedai khas kuliner Sulawesi itulah BK sering berbincang dengan sejumlah alumni HMI yang pernah aktif di berbagai cabang, seperti Bandung, Manado, Jember, Surabaya, dan lain-lain.

“Adabnya luar biasa, meski orangnya sangat sederhana. Dari cerita-cerita para alumni HMI yang datang ke sini, terkesan, beliau selalu memperhatikan adik-adik HMI yang sedang kesusahan,” ungkap Kasma, sambil bertanya, “Kapan ya.. saya bisa lihat beliau marah..?”

Kesan Kasma, BK nyaris tak pernah marah. Meski dicandai, bahkan oleh yuniornya, BK tak tersinggung. Malah menimpali lagi dengan canda.

Mungkin sikap itu terbentuk karena adabnya. Karena adabnya juga, dia terlihat sehat. Ya.. saya yakin Adab sungguh menjadikan kita manusia, … dan membantu kita bebas dari penyakit.

Adab menghentikan kita dari siapa saja, yang mungkin dapat menyebarkan infeksi, sekaligus mendorong kita untuk tetap bersih. Adab juga memandu kita untuk memakan hanya makanan yang higienis. Adab adalah kata  kunci bagi kita untuk sungguh menjadi manusia.

Pandangan ini sudah mengemuka, jauh sebelum badan kesehatan dunia – World Health Organization (WHO) -, mengeluarkan prosedur kesehatan: menghirup udara, cuci tangan dengan sabun, jaga jarak fisik, dan hindari kerumunan.

Mantan Ketua Umum PB HMI, Achmad Zacky Siradj yang juga menonjol karena adabnya bercerita : Dalam kepemimpinan Mas Chum (panggilan akrab bagi Mas Chumaidi Syarif Romas) Ketua Umum PB. HMI  periode 1976-1978, ia dengan Bung Karmin ditugaskan berkunjung ke cabang HMI Jayapura, yang baru saja mengadakan Konprensi Cabang dan yang terpilih menjadi Ketua Umum Cabangnya adalah saudara Khaimuddin.

Setibanya di Jayapura kami langsung akrab dengan para pengurus cabang diantaranya ada Rabbi, Umar Khatab, Dasman Djamaluddin dan Lusiana. “Kegiatan kami adalah mengisi materi pada latihan kepemimpinan tingkat dasar (basic training), kami tentu saja berbagi tugas memberikan materi, karena hampir seluruh materi diserahkan pada saya dengan Bungkarmin,” ungkap Zacky.

Tak diduga memang. Setelah selesai pelaksanaan training, kami diajak untuk napak tilas tempat perenungan Mac Arthur ketika merancang strategi penyerangan melawan Jepang. Disamping itu, kami juga diberi kesempatan untuk mengunjungi pedalaman di Papua – daerah yang cukup dingin ke kota Wamena yang letaknya tidak jauh dari perbatasan dengan Papua Nugini.

Allahyarham Bung Karmin menjaga silaturrahmi dengan yunior dan senior. Jiwa independensinya terpelihara |porisagaga

Merasa Terhormat

“Menggunakan helikopter berbaling-baling dua buah dengan pengawalan yang lengkap dengan persenjataan siap tempur. Kami sungguh merasa terhormat, karena Pangkolwilhan sendiri yang menugaskan dan mengawal kami ke sana,” ungkap Zacky.

Zacky melanjutkan, ketika terbang saya duduk berdampingan dengan Bung Karmin, lalu saya berbisik:  “Min kita ini jadi tamu kehormatan yang luar biasa, Bung Karminga ngejawab, hanya senyum, senyum yang bibir atasnya terangkat sedikit. Setelah mendarat, seorang perwira mengingatkan kami jangan keluar malam, khawatir ada panah atau tumbak yang nyasar,” ujarnya lagi.

Zacky melanjutkan, sambil leha-leha sebelum tidur mereka berbincang sejenak, yang ternyata di perbatasan. Situasinya sedang memanas. Lalu Zacky bilang pada Bungkarmin; “Min…ngeri juga kita yah..” Bung Karminhanya menjawab pendek, “iya ya.”

“Sepulangnya dari Wamena teman-teman cabang cerita; begini kak kalau berkunjung ke jayapura lalu tidak ke Wamena ibarat pergi ke makkah tidak ke madinah…,” urai Zacky.

Perjalanan yang cukup jauh dan memakan waktu yang panjang, karena singgah dulu di sorong. Dari sorong naik Feri ke Jayapura, begitu pula pulangnya sebab saat itu keduanya mendapat kemudahan penerbangan dari Pelita Air pesawat milik Pertamina.

“Di Sorong merupakan pengalaman pertama dengan Bung Karmin dan disuguhi udang lobster yang besar tanpa dimasak hanya dikasih jeruk nipis dan sedikit irisan bawang, nampak Bung Karmin makannya begitu lahap sekali, ternyata, sangat cocok bagi selera orang minang (sulit air) ini…,” urai Zacky.

Beberapa tahun lalu, kala diminta pandangannya tentang BK, Akbar Tandjung – politisi senior mantan Ketua DPR RI, Menteri Pemuda dan Olah Raga dan menteri Perumahan Rakyat — menyatakan, BK sejak muda merupakan sosok yang mandiri.

“Dilihat dari kiprahnya, BK telah menunjukkan komitmen dan konsistensi seorang profesional yang rendah hati, senantiasa terbuka dalam menularkan ilmu dan pengetahuannya, terutama kepada ‘adik-adik HMI,” ujar Bang Akbar.| nun porisagaga

Posted in ARTESTA.