Bomoh di Tengah Transformasi Digital

Perlu ada gerakan khalayak – netizen untuk memberikan support bagi konten kreatif yang mencerdaskan, mencerahkan, dan memperluas wawasan tentang fungsi dan manfaat media sosial yang ditunjang oleh ilmu pengetahuan, seni, teknologi, kosmologi, dan agama yang kelak akan membentuk ekosistem masyarakat berbudaya. Kreatif, inovatif, dan inventif. Banyak ruang kreatif yang masih menyediakan tantangan dan peluang, dengan mengenali kelemahan konten yang ada, sehingga kita mempunya daya – kekuatan baru untuk melayari proses transformasi ke era internet on think dan artificial intelligent yang menjadi watak Society 5.0.

Ashba’il Habiba

Di tengah zaman yang penuh ketidak-pastian, kegamangan, keribetan, dan kemenduaan, tsunami informasi menghadirkan fenomena budaya yang patut disimak, dikaji, dan diteliti secara mendalam. Khasnya oleh para cendekiawan, termasuk ulama dan pemikir spiritual.

Platform media sosial, khasnya Youtube dan Instagram, dipenuhi oleh berbagai kontens. Mulai dari berita politik dan kriminal yang aduhai mengerikan dan menggocoh kesadaran kemanusiaan, tips praktis melakukan pembersihan toilet, renovasi rumah, sejumlah seminar – diskusi – dialog kaum akademisi, silap mata (trik sulat) sampai ke soal bomoh (dukun) dalam pengertian tabib maupun dukun klenik.

Belakangan, karena ilmu yang pas-pasan hadir pula ‘bomoh karut’ yang mereduksi mantra, jampi, jangjawokan dan sejenis yang merupakan inkantasi sarat makna serupa karya sastra kalindaqdaq, talibun, gurindam, talibun, plus sedikit gestur dan mimik, sebagai alat bantu menampakkan sosok diri sebagai ‘orang sakti.’

Tak sedikit pula pesulap atau magician yang sedang sepi undangan show, lari ke dunia bomoh. Atau sebaliknya, bomoh menggunakan teknik pesulap – magician – ilusionis, ditambah bumbu mantra dan syair-syair ‘spiritual,’ untuk melakukan silap mata.

Sasarannya, jelas. Mereka yang miskin pengalaman, pengetahuan dan ilmu spiritual – agama, kuat dipengaruhi sinkretisma, dan mengalami disorientasi nalar, naluri, dan rasa, yang berpengaruh kepada dria-nya.

Dunia bomoh boleh jadi dunia nyata yang terselimuti oleh sesuatu yang remang. Bukan suatu profesi yang memerlukan uji kompetensi dan sertifikasi yang diikat kuat oleh kode etik atau code of conduct. Apa yang mereka sebut sebagai kode etik, seringkali maksudnya adalah ‘jangan saling ganggu.’

Bomoh tak jarang mengambil apa yang berlaku dalam tradisi khalayak, seperti menyembelih unggas dalam praktiknya. | foto khas

Mansour Leghai – seorang cendekiawan, dalam artikelnya bertajuk Miracle or Mirage? [The Paradox of Miracle & Science] menulis:  “Dalam kehidupan normal, jika seseorang mengetuk pintu Anda dengan klaim bahwa dia adalah petugas polisi yang menyamar dan perlu mengajukan beberapa pertanyaan kepada Anda, Anda tidak perlu melayaninya, sampai orang itu menunjukkan identitas asli dirinya.”

Hal sedemikian pun, semestinya berlaku pada setiap orang ketika dia berhadapan dengan bomoh. Apalagi di dalam dunia spiritual keagamaan. Dalam sejarah Islam, misalnya, dikenal seseorang bernama Musaylamah yang mengklaim dirinya sebagai nabi.

Pembuktian nyata adalah suatu cara untuk menguji kebenaran informatif dan kebenaran faktual. Apalagi terkait dengan kesaktian. Namun demikian, menurut Leghai, siapa saja yang sedang dirundung masalah dan potensial menjadi korban tipuan, tak punya daya dan keberanian melakukan uji kebenaran. Mereka inilah, biasanya yang menerima klaim ‘kesaktian’ begitu saja, sebaliknya kalangan yang cukup pengalaman dan pengetahuan, meski dengan sedikit ilmu, akan menolak segala hal yang tak sinkron dengan nalar. Termasuk mereka yang menerima klaim sesudah terjadi suatu proses pembuktian.

Di berbagai kalangan masyarakat, khasnya di berbagai negara bangsa yang sistem pendidikannya masih carut marut, akan menghadapi persoalan ambivalensia sosial dalam melihat realitas bomoh di satu sisi dan perubahan media di sisi lain. Termasuk, ketika mereka secara langsung dan tak langsung mengkonsumsi konten media digital dengan platform media sosial.

Di era digital, tampilan bomoh sebagai aktor atau sekaligus content creator, harus diposisikan sebagai penghibur. Tak lebih dari itu. Karena biasanya mereka enggan, bahkan tak mau menegaskan, bahwa apa yang mereka lakukan dan dikemas sebagai konten media adalah hiburan. Umpamanya: ‘membersihkan’ rumah dari para ‘penghuni’ lain yang tak nampak dan tak empirik; Menyembuhkan orang yang konon, sakit karena santet atau ‘ketempelan’ jin (macam perangko dan koyo?).

Menerima begitu saja klaim ‘kesaktian’ para bomoh merupakan kepandiran ideologis. Suatu bentuk kepandiran dalam menyikapi spiritualitas, tanpa mempelajari dengan seksama ontologi spiritual. Sikap semacam itu melawan akal sehat. Karena menerima begitu saja klaim ‘kesaktian’ apalagi yang dipertontonkan melalui media, dapat menebar kesasatan bagi khalayak konsumen media sosial.

Tak jarang bomoh berkisah tentang hantu dengan sosok menyerupai manusia. Meski proses penciptaan manusia (dari tanah) dan makhluk seperti itu (dari api) berbeda. | foto: khas

Dari aspek budaya, sajian konten media yang menghadirkan proses ‘pemalsuan’ pengalaman dan pengetahuan metafisika, supranatural, dan sejenisnya, dapat dikatakan sebagai bagian dari suatu proses penghancuran nalar khalayak. Pembodohan massif yang sangat bertentangan dengan esensi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa yang benar. Termasuk mereduksi ruang kemerdekaan insaniah.

Yang Utama Haji Omar Said Tjokroaminoto yang mendidik Bung Karno dan para pejuang kemerdekaan bangsa ini, sudah sejak dekade awal abad ke 20 menegaskan esensi berkehidupan spiritual. Yakni: sebersih-bersih tauhid, ilmu pengetahuan, dan siyasah (way of life).

Meyakini dan atau menggandrungi sesuatu melebihi tingkat kegandrungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, adalah syirq. Dosa besar yang tak terampuni. Setingkat di bawahnya adalah ghibah (menebar rumors), buhtan (hoax – fake information), yang menuai fithan (fitnah). Ketiganya merupakan bentuk kafakiran (kemiskinan) yang merangsang kekafiran (keinkaran manusia) atas eksistensi Allah sebagai Al Khaliq – Maha Kreator, yang menciptakan manusia sebagai makhluk sempurna. Yakni, makhluk yang dilengkapi oleh nalar, naluri, nurani, rasa dan dria sebagai daya atas raganya.

Karenanya, minda manusia (human mindset) dan jiwa (soul) harus dijaga dari kemungkinan terkontaminasi oleh syirq, ghibah, buhtan, dan fithan yang dapat menghancurkan dimensi nilai manusia (dehumanitas). Setidaknya meluruhkan manusia hanya menjadi khayawan an nathiq, hewan yang berakal.

Di tengah proses gelombang transformasi yang dahsyat, termasuk tsunami informasi, konten-konten klenik produksi para fake shaman alias bomoh-bomohan, dapat menjadi jebakan fantasi khalayak amah (awam) yang lemah iman. Terutama karena menerapkan agama lebih sebagai simbol, bukan sebagai jalan utama kehidupan.

Dalam konteks ini, media sosial dengan semua platformnya, harus dicegah dari kepentingan monetasi semata, sehingga hanya memikirkan pencapaian arus traffic (like,  subcribes dan share) mengikuti arus algoritma dalam kalkulasi kumulatif.

Untuk tidak terpengaruh oleh fantasi dalam kisah bomoh, manusia mesti menjalani hidup dengan sebersih-bersih tauhid, ilmu pengetahuan, dan siyasah (cara hidup) | foto khas

Selaras dengan hal itu, media sosial mesti dihidupkan oleh nilai fungsi dan kemanfaatannya : informatif, edukatif, rekreatif, dan re-kreatif. Memberi informasi, mendidik, menghibur, dan memantik kreativitas, dan mencerahkan. Tak terkecuali menghidupkan daya kritis khalayak dengan fungsi kontrolnya, meskipun belum ada undang-undang yang secara tersurat mengaturnya.

Dalam hal mengembangkan kreasi isi (content creative) media sosial, mesti melekat tanggung-jawab sosial, sehingga khalayak terlindungi dari proses degradasi media yang memberikan asupan bagi keseimbangan kearifan dan kecerdasan, sekaligus tidak menjebak mereka dalam singularitas.

Perlu ada gerakan khalayak – netizen untuk memberikan support bagi konten kreatif yang mencerdaskan, mencerahkan, dan memperluas wawasan tentang fungsi dan manfaat media sosial yang ditunjang oleh ilmu pengetahuan, seni, teknologi, kosmologi, dan agama yang kelak akan membentuk ekosistem masyarakat berbudaya. Kreatif, inovatif, dan inventif.

Banyak ruang kreatif yang masih menyediakan tantangan dan peluang, dengan mengenali kelemahan konten yang ada, sehingga kita mempunya daya – kekuatan baru untuk melayari proses transformasi ke era internet on think dan artificial intelligent yang menjadi watak Society 5.0.

Dunia bomoh di era digital, mesti diimbangi dengan kesadaran budaya untuk menaklukan segala anasir yang menyerat khalayak tertambat di hari lalu dan terjebak di hari ini. Karena hidup terus bergerak ke masa depan. Tentu dengan keseimbangan nalar, naluri, nurani, dan dria insani yang sempurna. |

Posted in LITERA.