Bulan Pergi Di Persinggahan Malam

Rabu (24 Februari 2021) dinihari, sekira pukul 02.00, telepon selular Endang Caturwati menerima kontak dari Miranda Risang Ayu, menyusul pesan whatsapp yang dikirim sebelumnya. Kabar duka.

Maestro tari Indonesia, Dr. Anak Agung Ayu Bulantrisna Jelantik, wafat pada pukul 00.30 di Rumah Sakit Jakarta, karena sakit Kanker Pankreas. Cucu Raja Karangasem Bali yang lahir di Deventer, Belanda pada 8 September 1947, itu adalah maestro tari Indonesia dan tak bisa melepaskan dirinya dari tari Legong.

Puteri sulung Dr. dr. Anak Agung Made Jelantik — dokter Perserikatan Bangsa Bangsa — itu, tak bisa memisahkan dirinya dengan tari. Tari adalah kehidupannya dan Tari Legong adalah pesona persona utamanya, meski ia juga menari tarian lain, termasuk tari topeng.

Endang Caturwati – guru besar Seni Pertunjukkan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung yang juga Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung 2012-2013 dan Direktur Kesenian & Pembinaan Film – lalu Direktur Film — Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2013-2016.  Akan halnya Miranda Risang Ayu, doktor ilmu hukum – ahli hak atas kekayaan intelektual (HAKI), dosen di Universitas Padjadjaran Bandung. Keduanya, kala belia merupakan murid tari sang maestro. Endang melanjutkan karirnya seninya sebagai koreografer dan penari dan karir akademiknya di bidang seni pertunjukan, dan melakukan banyak penelitian tentang tari tradisi. Keduanya sangat bersedih.

Endang bercerita pada eƇatri, “Saya beruntung san sangat bersyukur, dilatih tari langsung oleh Ibu Bulantresna dan Ibu Irawati.” Dua penari istana inilah, menurut Endang yang membentuk olah tubuhnya sebagai penari, karena selebihnya, dia mendapat pelatihan dan pendidikan tari dari para penari pria, seperti R. Tjetje Somantri.

“Indonesia kehilangan maestro tari yang membawa harus nama bangsa ke mancanegara,” lanjut Endang, pendiri dan pengasuh rumah kreatif Hapsari, Bandung yang kini juga memiliki banyak anak didik dan berbagai karya tari, termasuk Astungkara.

Tari Astungkara hasil kolaborasi kreatif dia dengan Setiawan Sabana – Guru Besar Senirupa Institut Teknologi Bandung dan Anis Sujana – Guru Besar Tari ISBI Bandung.

Di mata Endang, almarhumah Bulantrisna, adalah sosok maestro yang taft, bahkan dalam kondisi sakit, 15 Agustus 2020, masih sempat sama-sama menjadi partisipan aktif International Webinar on Mask of Global Society & Dance of Maestro, yang digelar International Mask Festival 2020.

Seminar itu menghadirkan pembicara dari Amerika Serikat, Jepang, Prancis, Australia, Singapura, Korea, Indonesia dan beberapa negara lainnya. Ibu Bulan dan Endang menjadi penampil (secara videotik) sekaligus pembicara dalam seminar itu.

Dari berbagai sumber diperoleh informasi, almarhumah adalah pendiri Bengkel Tari Ayu Bulan di Jakarta, dan anggota Dewan Pimpinan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI).

Bagi dokter spesialis THT (Telinga Hidung dan Tenggorokan) ini, menari itu penting, karena tubuh bergerak dinamis. Pernyataan almarhumah ini relevan dengan berbagai referensi kesehatan yang menyatakan gerak dan aktivitas tubuh berkaitan dengan imunitas dan kesehatan tubuh manusia.

Mendiang Bulan Trisna Jelantik – Maestro Tari Indonesia | dokumentasi pribadi

Dalam suatu wawancara dengan Kompas (14/05/20) Ibu Bulan mengatakan, tarian tak hanya menghadirkan pesona persona dalam perform tari di hadapan penonton. Di dalam tari, ada nilai-nilai suci yang terkandung di dalamnya. Seperti do’a. Jadi, tidak asal bergerak.

“Endang Caturwati sependapat dengan pendapat gurunya, itu. Ada sesuatu yang secara spiritual mengalir di dalam diri, semacam suara batin,” kata Endang.

Nilai-nilai itulah yang menghadirkan tari menjadi sesuatu yang tak berhenti hanya sebagai ekspresi kreatif seni. Endang merasakannya dalam berbagai karya tarinya, antara lain Astungkara, Munajat untuk Bumi, dan Parisukma.

Tubuh, seperti ungkap almarhumah, adalah medium untuk menyampaikan pesan yang hanya bisa dirasakan dengan kejernihan batin. Sebagaimana halnya almarhumah, Endang berpendapat, menari mesti dengan mata hati, dalam do’a kepada Tuhan, bumi, dan tubuh dalam keadaan bersuci.

Hal itu, menurutnya, ia ungkapkan dalam buku terbarunya tentang korelasi seni – ketahanan budaya – karakter bangsa dan ketahanan nasional, yang kini sedang dia rampungkan penulisannya.

Seorang penari menempatkan tubuh sebagai ruang, medium untuk mengekspresikan bahasa gerak menjadi bahasa simbol dan makna, dengan segala retorika tanpa kata. Di dalamnya, ada ekspresi, yang mengalir sesuai dengan rasa, dan dria. Menari dengan hati, adalah mesti dirasakan dqan dihayati, sehingga semua bagian tubuh terkordinasi  sebagai suatu kesatuan yang harmonis, yang hanya bisa dirasakan oleh penari, sehingga mencapai wilayah  greget. Wilayah rasa, yang dalam budaya Bali disebut taksu, dan dalam budaya Sunda disebut Sari.  Para penari apabila belum keluar taksunya  atau sari  atau nyari, seolah hanya menghadirkan tubuh bergerak, tanpa ekspresi.

Dalam blogspot Tari Ayu Bulantrisna (3 Desember 2007), almarhum mengemukakan, dirinya termasuk ‘bermuka dua.’ Sebagian orang mengenalnya sebagai dokter ahli THT dan bekerja di Badan Kesehatan Dunia – World Health Organization (WHO), sebagian lagi kalangan lebih mengenal dirinya sebagai mantan penari Legong.

Dalam wawancara di blogspot, tersebut, almarhumah mengatakan,. “Saya tidak akan pernah lupa, semua itu karena berkah dari kakek saya yang seorang Raja Karangasem. Beliau memiliki keinginan yang luhur, mengumpulkan semua cucunya untuk belajar tari. Beliau khusus mendatangkan seorang guru tari. Saya belajar menari saat umur tujuh tahun dan mulai pentas saat menginjak usia tujuh setengah tahun.”

 Setelah belajar menari, ternyata almarhumah merasa  (menari) sangat menyenangkan. “Bahkan saya menjadi ketagihan, susah dihentikan. Walau sekarang sudah punya tiga cucu, saya tetap menari,” ungkapnya.

Almarhumah pertama kali menari tarian bertajuk Condong Kebyar yang kini mungkin sudah punah. Tari Condong Kebyar mirip seperti Panjisemirang. Setelah mendapatkan tari Condong Kebyar, selanjutnya is mempelajari berbagai jenis tari, termasuk tari Baris.

Ibu Bulan selalu hadir dengan senyuman | foto dokumentasi

“Kalau pentas, saya menarikan Oleg Tamulilingan sebagi ‘laki”-nya, sedangkan yang menjadi “wanita”-nya adalah saudara sendiri. Saat itu ada tiga tarian yang sering saya pentaskan seperti Oleg Tamulilingan, Baris dan Condong Kebyar,” ungkapnya seperti ditulis blog spot bengkel tari yang didirikannya, itu.

Almarhumah lalu bercerita banyak hal tentang tari, sejak masih kanak-kanak. Umur sembilan tahun dia ikut ikut bapaknya,  yang bertugas di London dan Belanda. Selama enam bulan dia bersekolah di sana. Karena diketahui bisa menari Bali, dia kemudian diminta menghibur orang-orang di sana.

“Mendapat pentas di luar negeri, hati saya tentu menjadi senang. Dan saking senangnya, datang dari luar negeri saya mendalami tari Legong Peliatan, di Ubud. Tidak hanya itu, saya juga sempat belajar pada Pak Kakul dan memperdalam tari Oleg Tamulilingan bersama Pak Mario. Memang beliau-beliau ini memberikan ilmunya secara profesional,” ungkapnya.

Usia 10 tahun, almarhumah sudah  dikenal sebagai penari Legong gaya Peliatan. Presiden Soekarno, sering mengundang dirinya menari, untuk menghibur tamu-tamu negara di Istana Presiden Tampaksiring, Gianyar. Setelah usia 12 tahun, almarhumah diundang menari di Istana Presiden di Jakarta. “Saat itu saya bergabung dengan salah satu grup kesenian dari Bali,” jelasnya.

Tahun 1965, dia tinggal di Bandung melanjutkan kuliah kedokteran. Menariknya, menurut almarhumah, walau dalam keadaan kuliah dia selalu diikutkan sebagai anggota misi kesenian tradisional Bali ke luar negeri, seperti ke Kamboja, Pakistan, Cina, Korea dan Jepang.

“Jadi sambil kuliah saya bisa mengikuti misi kesenian. Ya, untung saja saya diberikan izin khusus dari bapak Menteri Pendidikan saat itu, sehingga dekan di kampus saya juga ikut-ikutan memberikan izin,” ceritanya. Meskipun demikian,  dia tidak pernah lupa dengan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Agar tidak ketinggalan pelajaran, di mana pun acara pentas, saya selalu menyempatkan diri untuk membaca buku kedokteran yang tebal itu.

“Sebelum mendapat giliran pentas, saya belajar di belakang panggung. Terakhir, saya menari Expo di Osaka Jepang selama tiga bulan. Setelah menikah pada 1971, saya putuskan untuk berhenti menari. Ternyata tidak bisa. Ada saja yang membuat saya menjadi menari. Bahkan saat hamil empat bulan pun saya juga bisa menari.”

Tahun 1992, tiba-tiba timbul keinginannya menari bukan untuk orang lain. Ia ingin memiliki grup kesenian sendiri yang bisa menampung penari-penari lain dan bisa berbuat sesuai dengan kemauan sendiri. “Saya menampung anak-anak muda dari segala agama dan segala etnis untuk memperdalam tari Bali khususnya tari Legong. Dalam proses belajar ini saya memanggil seorang guru tari yang dapat memberikan segala macam tari Legong,” ceritanya.

Khusus untuk tari Legong, menurut almrhumah dalam blogspot, itu bengkel tarinya pernah mengadakan Pekan Apresiasi Legong di Bandung pada 1994. Apresiasi ini merupakan pertama kali muncul dengan grup sendiri dengan nama Bengkel Tari Ayu Bulan. Sambil sibuk mempersiapkan acara itu, almarhumah juga sedang mengikuti kuliah Doktor PSB di Belgia.

Dan.. Rabu, dinihari itu, Bulantrisna meninggalkan dunia fana yang pernah ia hias dengan tariannya, tarian dari tanah kelahirannya, Bali. Maestro Bulantrisna, pergi di persinggahan malam.. Amor ing acintya. Astungkara. InsyaAllah husnul khatimah. Amiin. | haedar muhammad

Posted in HUMANIKA.