Bagi saya — sebagai pembaca — artikel tersebut laksana santapan ruhani penguat kuliah subuh di hari pertama bulan Ramadan 1446 H. Isinya bukan hanya luah pemikiran dan pendapat kritis, cerdas sekaligus jenaka. Melainkan ekspresi sikap lugas warga bangsa yang lantang menyatakan, “Panen paradoks saatnya disetop. Hari ini saatnya menanam sebuah […]
SelengkapnyaARTESTA
Bandar Udara dan Kemuliaan Melayani
Pengelola bandara (khasnya berkelas internasional) di Indonesia dalam praktek tata kelola sehari-hari penting menguatkan kesadaran tentang kemuliaan melayani. Layanan yang tak sekadar mengikuti standar prosedur operasional korporat belaka. Tanpa kecuali, terutama, hal ini berlaku bagi petugas maskapan penerbangan. Khasnya yang kerap dijuluki sebagai maskapai selalu telat (delayed air services), yang […]
SelengkapnyaHindari Jebakan Minda Relasi Seni dan Media
Dalam konteks Indonesia, di tengah tata kelola pendidikan sebagai bisnis, kuatnya paradigma yang mendudukkan kepentingan manusia sebagai pusat segala sesuatu, sehingga bebas menaklukkan alam untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Akademi Jakarta via Maklumat tentang ‘Cegah Penghancuran Nalar Publik’ (20 Januari 2022). Maklumat tersebut merekomendasikan negara dan khalayak, bertanggung jawab: (a) Mengembangkan […]
SelengkapnyaButet Mengubah Marah Menjadi Energi Artistik dan Estetik
Karena Butet Kertaredjasa juga berprofesi sebagai penulis, setiap tajuk karyanya punya daya yang memandu penikmat karyanya menangkap pesan yang hendak disampaikannya. Tajuk tersebut baru dituliskannya jelang pameran, empat tahun setelah ia bergumul dengan karyanya. Yang membedakan dengan banyak perupa lain, karya-karya yang dipamerkan BK juga merupakan medium komunikasi visual yang […]
Selengkapnya24 Jam Tanpa Henti Mengendalikan Kedaulatan Tubuh dan Irama Rasa
24 jam atmosfer di lingkungan kampus ISI Surakarta terkesan lain, khasnya di lokasi-lokasi ke sebelas penari dan musisi menunjukkan kepiawaiannya. Musik dan gerak saling terkoneksi satu dengan lainnya. Fluktuasi bioritme mereka tak tertampak di permukaan. Catatan Nabil MENARI tak sekadar menggerakkan tubuh mengikuti musik. Menari merupakan kerja artistik, esttetik, dan […]
SelengkapnyaUrgensi Kementerian Kebudayaan
Kata kuncinya adalah komitmen untuk konsisten dengan prinsip-prinsip asai budaya, seperti rumpaka Sunda yang diucapkan Anies: “Ngadék sacékna, nilas saplasna.” Konsistensi ucapan dan tindakan, menjunjung kejujuran dan kearifan. Sesuatu yang di masa mutakhir ini, pudar. Sekaligus sikap rendah hati, tidak pongah: aja adigang – adigung – adiguna seperti yang ucapkan […]
SelengkapnyaMencermati Pilpres dan Pemilu dengan Isyarat Jangka Jayabaya
Untuk mengembalikan kewarasan dalam berbangsa dan bernegara, ada baiknya, kita merenungkan isyarat yang tersurat dan tersirat dalam Jangka Jayabaya (secara konotatif dan denotatif), bahwa kini secara faktual terjadi: Wong agung kasinggung. Wong ala kapuja. Wong wadon ilang kawirangane. Wong lanang ilang kaprawirane. Akeh wong lanang ora duwe bojo. Akeh wong […]
SelengkapnyaJebakan Fantasi Gemoy dan Nandak Bagongan
Budaya populer yang berangkat dari seni tradisi rakyat yang disampaikan melalui media massa dan media sosial secara multi media, multi channel, dan multi platform adalah medium sikap oposisi yang “sehat secara politik” dan bertentangan dengan budaya yang dikomersialkan atau budaya massa. Catatan Haedar Mohammad Menciptakan mitos diri dengan rekayasa dan […]
SelengkapnyaMemahami Maklumat Akademi Jakarta
Berbagai kearifan dan budaya lokal dari seluruh Indonesia, yang memberikan isyarat penyelenggaraan masyarakat, negara, dan bangsa terabaikan. Akibatnya hilang keadaban. Dalam konteks itu, Maklumat Enam Butir AJ 2023 menjadi penting maknanya. Khasnya bila dilihat konteks ikhtiar mencegah terjadinya kejahatan budaya, yakni perampasan (atau sekurang-kurangnya) reduksi hak demokrasi rakyat, sebagaimana tercermin […]
SelengkapnyaPenghargaan Akademi Jakarta untuk Seni Penyadaran dan Bertaring
[Komunitas Taring Padi dan Moelyono Penerima Penghargaan AJ 2023] Sebagai aktivis seni budaya, TP mempunyai dua peran yang sangat menarik dalam landasan organisasinya. Pertama, melancarkan agitasi terhadap wacana elit dengan mempromosikan seni kerakyatan. Kedua, mengorganisasi asosiasi -asosiasi kebudayaan dan kerakyatan yang berwatak progresif di tengah-tengah masyarakat. Akal halnya Moelyono, melakukan […]
Selengkapnya









