Daya Anak Ciganitri Mengubah Imajinasi Menjadi Inovasi

Tari Kontemporer yang selama ini diidentikkan dianggap sebagai ruang kreatif yang hanya dilakukan oleh orang “dewasa,” maka melalui metode Literasi Tubuh Wajiwa menjadi proses kreatif tari kontemporer menjadi instrumen edukasi yang sangat bermanfaat, baik bagi kesenian itu sendiri, juga bagi kehidupan mereka saat ini, dan ke depan.

 

Alfianto Wajiwa boleh jadi lebih dari sekadar nama. Penari, koreografer, dan dosen seni pertunjukan di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Wajiwa di belakang nama ini adalah singkatan ‘dua-hiji-dua’ (212), nomor jalan Buah Batu – Bandung, alamat kampus ISBI.

Alfianto tinggal di kampung Ciganitri, yang sebagian wilayah kampung, itu telah berubah menjadi kompleks perumahan.

Ada ‘perubahan budaya’ yang terjadi dari kampung, itu dari rural zone menjadi sub urban, ketika Bandung terus berkembang sebagai metropolitan.

Di situ, Alfi mendirikan sanggar tari. Sesuatu yang kelak menjadi ‘titian penghubung budaya’ warga kampung dengan warga kompleks. Menghubungkan rural zone dengan sub urban zone yang bergerak menuju zone urban.

Ciganitri, menurut Alfi, adalah kampung yang hilang, kampung yang “diubah” wajahnya menjadi kota, rural ke urban.

“Persoalan ini bagi sebagian besar orang merupakan hal yang biasa, tidak menjadi permasalahan karena beranggapan sebatas perubahan pasti terjadi dan tidak dapat dihindari,” ungkapnya.

Samana garapan koreografer Antari Dewi Ranjani | foto Endang Caturwati

Di balik itu semua, jika ditelisik lebih dekat, menurut Alfi,  banyak persoalan yang dihadapi sebagian besar masyarakat kampung Ciganitri tersebut, mulai dari persoalan sosial, budaya, pendidikan, pekerjaan, dan lain-lain.

Permasalahan-permasalahan tersebut, menurutnya, berpangkal pada persoalan ekonomi. “Kemajuan zaman yang begitu cepat menuntut setiap orang harus ekstra menggunakan kecerdasannya untuk dapat bertahan hidup di level yang lebih baik, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan salah satu pilar utama untuk menuju kehidupan yang lebih baik itu.”

Alfi bertanya padaq dirinya: “Bagaimana dengan sebagian besar anak-anak Kampung Ciganitri yang masih banyak berpendidikan rendah dan putus sekolah?”

“Persoalan-persoalan tersebut menggugah empati kami di Wajiwa sebagai seniman untuk mencari cara agar menjadi daya,” ungkap Alfi.

Melalui kegiatan kreativitas kesenian, Alfi mencoba merangkul mereka dalam satu wadah aktivitas dan kreativitas kesenian di Rumah Kreatif Wajiwa dengan menggunakan Metode Literasi Tubuh Wajiwa yang merupakan hasil pencarian panjang yang dilakukannya.

“Literasi Tubuh Wajiwa sebuah metode untuk menggiring anak-anak kedalam proses kreativitas tari kontemporer,” menurut Alfi.

Pejuang Senja garapan koreografer Elfa Damayanti | foto: Endang Caturwati

Tari Kontemporer yang selama ini diidentikkan dianggap sebagai ruang kreatif yang hanya dilakukan oleh orang “dewasa,” maka melalui metode Literasi Tubuh Wajiwa menjadi proses kreatif tari kontemporer menjadi instrumen edukasi yang sangat bermanfaat, baik bagi kesenian itu sendiri, juga bagi kehidupan mereka saat ini, dan ke depan.

Di sentra pelatihan tari Rumah Kreatif Wajiwa yang dipimpinnya, Alfianto menghidupkan apresiasi tentang kemanusiaan yang mengalir melalui gerak untuk mengekspresikan gagasan dan kesadaran kolektif kemanusiaan terhadap ekologi dan ekosistem sosial.

Alfi menghidupkan kesadaran tentang realitas seni sebagai bagian dari kehidupan manusia yang dikelola dan diselenggarakannya secara antusias untuk menghidupkan simpati, empati, apresiasi, respek, dan cinta budaya (termasuk kemanusiaan secara ekuit dan ekual, juga inklusif).

Dia membangun studio dan huma Wajiwa yang sekaligus merupakan simpul seni. Sekaligus, dalam konteks Alfi sebagai akademisi, merupakan ajang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Ajang menguji dan mengembangkan ilmu dan pengetahuannya tentang seni pertunjukan. Khasnya, seni tari.

“Alfi menguatkan adaptasi personal dan sosial yang kemudian menempatkan seni sebagai sarana partisipasi sosial, termasuk dalam pengembangan kepribadian anak dan remaja,” ungkap Prof. Dr. Endang Caturwati, guru besar seni pertunjukan ISBI.

Kamis, 29 September 2022 di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Rumah Kreatif Wajiwa yang dibangun dan dipimpin Alfi, mempergelarkan karya mereka, bertajuk: “Cara Mencari Daya, Daya Mencari Cara: Imagination Becomes Reality.”

Distorsi garapan koreografer Alfianto Wajiwa | Foto : Wajiwa Dance Centre

Pergelaran itu menghadirkan anak-anak Ciganitri, peserta latihan tari mempertunjukan karya kreatif mereka dengan beberapa nomor repertoar tari yang digarap empat koreografer Wajiwa: Antari Dewi Ranjani, Arti Prihatini, Elfa Damayanti, dan Alfi.

Karya-karya itu: Samana (Antari Dewi Ranjani), Jaipong Ginjring (Arti Prihatini), Pejuang Senja (Elfa Damayanti), dan Distorsi (Alfianto Wajiwa).

Prof. Endang yang menjadi pengamat dalam pergelaran tersebut mengapresiasi daya kreatif keempat koreografer dan anak-anak yang menjadi penari.

“Ada dinamika kreatif dalam Ginjring yang berakar pada gerak pencak, pengembangan daya kreatif yang menantang kemampuan mengolah gerak tari sebagai manifestasi dari ‘imagination becomes reality, berpijak pada akarnya, gerak pencak’  dalam Pejuang Senja dan Samana,” ungkap Prof. Endang.

Prof. Endang juga mengemukakan, dalam Distorsi dengan basis ‘kaulinan barudak’ atau ‘dolanan bocah,’ Alfi menghadfirkan realitas pertama kehidupan sosial anak-anak dalam suatu realitas, menjadi realitas kedua dalam karya seni yang mempertemukan artistika dan estetika sebagai ekpresi perubahan hidup.

Prof. Endang juga mengapresiasi dan respek pada Alfi dan seluruh tim Rumah Kreatif Wajiwa yang menghadirkan musik dengan keragaman yang juga menyentuh rasa budaya lokal, dan ekspresi batin.

Eksplorasi potensi anak-anak Ciganitri Mengubah Imajinasi menjadi Kenyataan | dok. Wajiwa Dance Centre

Guru Besar Seni Pertunjukan ISBI, ini mengapresiasi Alfi yang berhasil menempatkan Kampung Ciganitri, mejadi konsentrasi Rumah Kreatif Wajiwa atau Wajiwa Dance Center yang didirikannya sejak tahun 2012.

Dalam pandangan Alfi sendiri, “Kampung Ciganitri menjadi sebuah inspirasi yang tak pernah habis, selalu datang, hadir menghampiri , dan menyentuh empati.”

Dari apa yang tersaji dalam pergelaran tersebut, Alfi membuktikan kebenaran tesis akademiknya, bahwa metode Literasi Tubuh Wajiwa merupakan instrumen atau alat dengan ranah kerjanya menggali kecerdasan atau kepekaan raga, rasa, pikir, dan imajinasi.

Hal tersebut sangat menjadi kecerdasan utama yang diperlukan oleh penari kontemporer, sehingga kehadiran tubuh mereka di atas pentas dapat menarasikan apa yang akan di sampaikan kepada penonton, tubuh hadir sebagi simbol.

Menurut Alfi, “Kecerdasan atau kepekaan tersebut juga akan menjadi habitus baru dalam kehidupannya. Munculnya percaya diri, kepekaan empati, kecerdasan intelektual dan logika, kreatif, serta memiliki imajinasi yang tinggi.”

Dalam pengantar pergelaran, Alfi mengemukakan, bahwa proses kreatif di Rumah Kreatif Wajiwa bertujuan utama, bukan semata menjadikan anak sebagai penari atau koreografer yang hebat, akan tetapi yang lebih penting adalah nilai manfaat bagi kehidupan mereka saat ini dan jangka panjang ke depan.

Prof. Dr. Endang Caturwati, Guru Besar Seni Pertunjukan ISBI Bandung | dok. Wajiwa Dance Centre

Anak yang mempunyai kepekaaan atau kecerdasan imajinasi adalah anak yang selalu mencari untuk menemukan dan anak yang tidak pernah “merasa puas.”

Anak merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya tidak dapat langsung dirasakan seperti halnya transaksi ekonomi, perlu waktu, perlu proses yang hasilnya akan dirasakan beberapa tahun kemudian, sehingga Imajination Becomes Reality, apa yang diimpikan menjadi kenyataan pada waktunya.

Pergelaran tari kontemporer yang dilaksanakan pada Triwulan Wajiwa ke 42, tersebut merupakan sebuah presentasi Literasi Tubuh Wajiwa dari berbagai usia, mulai dari anak- anak, remaja, sampai dewasa.

“Rata-rata mereka memulai proses di Wajiwa semenjak usia Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Proses panjang inilah yang membentuk habitus baru untuk mereka pulang kemasa depan. Mereka akan pulang ke masa depan, tidak boleh terlarut dalam kesedihan dan keterpurukan akibat kemajuan zaman, sehingga pulangnya mereka adalah kemasa depan dengan membawa harapan-harapan yang menggembirakan.

Kampung Ciganitri hanya salah satu contoh dari persoalan yang sama dialami di banyak  tempat  di daerah lain.

Alhasil, menurut Prof. Endang,  melalui pergelaran yang disaksikannya langsung, Rumah Kreatif Wajiwa – Wajiwa Dance Center memang berani untuk menyatakan bahwa proses kreatif Tari Kontemporer merupakan ruang edukasi yang sangat memiliki nilai manfaat besar terutama bagi usia anak-anak. Seperti yang diyakini Alfi.

Harapan dari kampung yang hilang. Ekspresi gerak Habi Munazar | dok. Wajiwa Dance Centre

Sebagai ajang presentasi kreativitas dan inovasi, pergelaran “Cara Mencari Daya, Daya Mencari Cara”; Imajination Becomes Reality,”  sungguh mempresentasikan hasil suatu proses panjang yang digeluti secara konsisten.

Koreografer Arti Prihatini, S.Sn., adalah salah satu penari, koreografer, dan pengajar di Rumah Kreatif Wajiwa semenjak tahun 2015 sampai sekarang.

Koreografer Elfa Damayanti, S.Sn. Elfa adalah anak Kampung Ciganitri, mulai bergabung di Wajiwa semenjak kelas 6 SD sampai saat ini, dan semenjak tahun 2018 menjadi penari utama, koreografer, dan pengajar di Rumah Kreatif Wajiwa sampai sekarang.

Koreografer Antari Dewi Ranjani, S.Sn., adalah anak Kampung Ciganitri, masuk Wajiwa semenjak kelas 6 SD sampai saat ini. tahun 2018. Sampai kini, Antari menjadi penari utama, koreografer, dan pengajar di Rumah Kreatif Wajiwa.

Habi Munazar, merupakan satu-satunya penari laki-laki di Rumah Kreatif Wajiwa. Habi adalah anak Kampung Ciganitri, mulai masuk ke Wajiwa semenjak kelas 1 SD dan masih aktif sampai saat ini (kelas 2 SMA). Habi sebagai penari telah banyak mengikuti festival baik tingkat daerah, nasional dan internasional dengan koreografer Alfiyanto Wajiwa.

Pergelaran sebagai presentasi kreatif tak akan pernah berakhir dan akan terus berlangsung. Gelora semangat ‘kampung hilang’ memantik energi baru anak-anak kampung Ciganitri, dan terus menyala menjadi daya kreatif dan inovasi. | porisawaladi

Posted in LITERA.