Selama babak lakonannya sejak menggantikan Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati (SMI), sebagai aktor, Purbaya tidak hanya menguasai panggung dan plot cerita sebagai sosok antagonis dengan adegan dan dialog improvisatoris yang menghentak dan mencuri perhatian khalayak. Adegan-adegan humanis dengan pendekatan populis modes buah kreatifnya sendiri — antara lain, adegan makan siang di ‘kaki lima’ — dan berbagai adegan lainnya berhasil ia sajikan dengan ‘mengawinkan’ gaya berlakon a la teater modern dan teater tradisional.
Delanova
SEBAGAIMANA dipublikasikan via berbagai saluran media dan platform, upacara resmi serah terima jabatan Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara, di Gedung Juanda I Kantor Pusat Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Selasa, 15/09/26) berlangsung sangat singkat.
Purbaya hanya menjelaskan, ketika hari pertama menjabat ia bicara agak lama, lantaran membawa spirit optimisme. Namun, saat ‘menyerahkan’ jabatannya – tongkat estafet – ia hanya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas kerjasama selama setahun terakhir (September 2025 – 2026).
Pemberhentian Purbaya terjadi sangat mendadak, ketika ia (sebagai Menteri Keuangan) masih memimpin rapat dengan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) di Kompleks Parlemen Senayan – jakarta (Senin, 14/9/26).
Boleh jadi peristiwa tersebut mengejutkan bagi Purbaya dan sejumlah kalangan — termasuk yang punya banyak kepentingan dengan keberadaan jabatan Menteri Keuangan. Bahkan, ada juga yang menyebut peristiwa tersebut sebagai peristiwa dramatis. Namun, bagi sebagian besar khalayak di berbagai sudut negeri — termasuk korban bencana dan petaka (alam) — peristiwa itu biasa saja.
Ibarat lakon pergelaran teater, peristiwa tersebut setara fragmen sekejap di penghujung babak, sebelum ‘black out’ atau layar turun.
Selama babak lakonannya sejak menggantikan Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati (SMI), sebagai aktor, Purbaya tidak hanya menguasai panggung dan plot cerita sebagai sosok antagonis dengan adegan dan dialog improvisatoris yang menghentak dan mencuri perhatian khalayak.
Adegan-adegan humanis dengan pendekatan populis modes buah kreatifnya sendiri — antara lain, adegan makan siang di ‘kaki lima’ — dan berbagai adegan lainnya berhasil ia sajikan dengan ‘mengawinkan’ gaya berlakon a la teater modern dan teater tradisional.
Menyejahterakan Rakyat
Sebagai aktor, Purbaya mampu belanja momen untuk adegan-adegan tertentu yang membuat lakonan menjadi sungguh dramatik. Sekaligus menampilkan ‘pola konflik’ dengan dramatika dan dramaturgi dengan dan tanpa metafora.
Dalam alur plot cerita, sebagai aktor Purbaya mampu memainkan peran naik (rising action) dan memainkan fantasi khalayak mengikuti eksplorasi perannya untuk menganalisis pencapaian klimaks.
Pola akting (pemeranan diri) Purbaya dalam berbagai relasi dan koneksi adegan — kebijakan fiskal versus kebijakan moneter dan berbagai hal yang terkait kebijakan lembaga — pajak, cukai, aset negara, anggaran, fungsi bendahara negara, dan berbagai aspek lainnya.
Ia tampil di ‘panggung’ menghadirkan spektakel yang mengusik khalayak menganalisis, bahkan menduga-duga tak hanya pada sosoknya sebagai aktor. Jauh dari itu juga presumsi-presumsi terkait visi penyutradaraan.
Keberadaan Purbaya sebagai aktor dalam memainkan lakonnya sebagai Menteri Keuangan membuka begitu banyak kemungkinan bagi khalayak untuk mencari tahu panggung depan dan panggung belakang.
Bahkan sampai lakon ditutup dengan fragmen sekejap yang anti klimaks dan hambar, dan lakonnya diganti dengan aktor lain (Suahasil Nazara), masih banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Salah satu pertanyaan yang mengemuka adalah sejauhmana peran utama Menteri Keuangan dalam keseluruhan konteks aksi negara mewujudkan tugas utamanya: menyejahterakan rakyat ! |
