Gubernur Pramono Anung Kukuhkan 16 Anggota Akademi Jakarta
“Dalam transformasi menuju kota global, budaya tidak boleh hanya menjadi pelengkap pembangunan. Budaya harus menjadi identitas, karakter, dan kekuatan yang membedakan Jakarta dari kota-kota besar lain di dunia,” ujar Gubernur Pramono. Ia menegaskan, “Pemprov DKI Jakarta akan membuka ruang yang lebih luas bagi seniman, komunitas, dan masyarakat untuk berkarya serta berekspresi.”
JAKARTA | Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengukuhkan 16 anggota Akademi Jakarta periode 2026–2031 di Balairung, Balai Kota DKI Jakarta, Jakarta Pusat, pada Selasa (23/6). Mereka terdiri atas sembilan anggota tetap dan tujuh anggota baru.
Akademi Jakarta (AJ) merupakan lembaga kebudayaan independen yang dibentuk pertama kali oleh Gubernur DKI jakarta Ali Sadikin (24/08/1970).
AJ merupakan wadah yang menghimpun cendekiawan, seniman, dan budayawan untuk memberikan pemikian, pandangan serta rekomendasi bagi pengembangan seni dan budaya di Jakarta. serta daerah.
Gubernur Pramono yang sempat bercita-cita menjadi sastrawan (karena ayahnya guru sastra) berharap, para anggota yang dikukuhkan dapat menjadi mitra strategis Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam merumuskan arah kebudayaan menjelang lima abad Jakarta pada 2027, sekaligus mendukung transformasi Jakarta sebagai kota global.
“Dalam transformasi menuju kota global, budaya tidak boleh hanya menjadi pelengkap pembangunan. Budaya harus menjadi identitas, karakter, dan kekuatan yang membedakan Jakarta dari kota-kota besar lain di dunia,” ujarnya.
Gubernur Pramono menegaskan, Pemprov DKI Jakarta akan membuka ruang yang lebih luas bagi seniman, komunitas, dan masyarakat untuk berkarya serta berekspresi.
Pembenahan tata kelola fasilitas kesenian, termasuk Taman Ismail Marzuki (TIM), juga menjadi perhatian agar ruang budaya semakin inklusif dan mudah diakses.

Gubernur Pramono menyerahkan buku tentang karya seni rupa yang ada di Balai Kota termasuk ruang kerjanya diosaksikan anggota AJ: N. Kusumastuti, Sem Haesy, dan I Sandyawan Soemardi | diskominfotik
Jakarta Kota Terbuka
“Jakarta ingin membuka ruang yang lebih luas bagi budaya, seni, dan ekspresi masyarakat. Karena itu, pembenahan, perbaikan, dan pengelolaan bersama panggung-panggung utama seperti Taman Ismail Marzuki menjadi penting untuk membentuk wajah seni dan budaya Jakarta ke depan,” tuturnya.
Dukungan terhadap ekosistem budaya juga dilakukan melalui pembukaan kembali Planetarium Jakarta, peningkatan fasilitas Taman Ismail Marzuki, serta pemberian insentif berupa keringanan pajak 50 persen bagi produksi film.
Menurut Gubernur Pramono, Jakarta harus tumbuh sebagai kota yang terbuka bagi beragam komunitas dan ekspresi budaya.
Hal itu, ungkapnya, tercermin dalam penyelenggaraan berbagai perayaan keagamaan dan budaya di ruang publik, mulai dari Christmas Carol, Imlek, Waisak, dan Nyepi hingga Idulfitri.
“Ruang-ruang seperti itulah yang harus kita jaga bersama. Mudah-mudahan Jakarta semakin penuh warna. Pembangunan fisik terus berjalan, tetapi yang paling utama adalah membuat warga Jakarta merasa nyaman,” pungkasnya.
Sementara itu, anggota Akademi Jakarta, N. Syamsuddin Ch. Haesy, menilai seni dan budaya perlu ditempatkan sebagai bagian dari kekuatan ekonomi Jakarta, bukan semata-mata sektor yang hanya memerlukan pembiayaan.
“Pertama, meningkatkan atraksi seni dan budaya. Kedua, mengembangkan kreativitas dan inovasi. Ketiga, menempatkan seni bukan lagi sebagai kegiatan yang menghabiskan dana, melainkan sebagai aktivitas ekonomi yang memberikan nilai tambah,” jelasnya, seraya menyebut posisi Jakarta sebagai kota global membuka peluang kerja sama kebudayaan dengan berbagai kota besar di dunia.
16 anggota Akademi Jakarta yang dikukuhkan: adalah : Afrizal Malna, Alia swastika, Armantono, Bambang Harymurti, Candra Darusman, Dewi Noviami, I Sandyawan Sumardi, Dwinita Larasati, JJ Rizal, Kamala Chandrakirana, Karlina Supelli, N. Syamsuddin Ch Haesy, R. Ay. Siti N. Kusumastuti, Seno Gumira Ajidarma, Tisna Sanjaya, dan Zeffry Alkatiri.

Gubernur Pramono Anung, Ketua dan anggota DKJ : JJ Rizal, Dwinita Larasati, Dewi Noviami, Sem Haesy, Seno Gumira Ajidarma, I Sandyawan Soemardi, Candra Darusman, dan Bambang Harimurti | diskominfotik_dkijakarta
Dimensi Kemanusiaan
Dalam pidatonya, Gubernur Pramono Anung sempat mengungkapkan dirinya relatif mengenali para anggota AJ lewat karya-karyanya. Bahkan pribadinya. Ia bahkan menyebut, tahu kalau Ketua AJ Seno Gumira Ajidarma lahir di Boston – Amerika Serikat seraya menyebut sejumlah karya Seno. Terutama sebagai mahasiswa dan Ketua Dewan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) di masanya. Seno mengajak khalayak mendoakan agar seluruh anggota AJ sanggup dan kuat menunaikan tugas dan tanggung jawabnya.
Sedangkan Anggota AJ Candra Darusman secara lepas mengingatkan, pembangunan fisik Jakarta penting, namun pembangunan budaya terkait dengan standard operating procedur (SOP) tata kehidupan seni budaya, tak kalah penting.
Anggota AJ I Sandyawan Sumardi mengingatkan tentang dimensi kemanusiaan dalam pembangunan Jakarta kini dan ke depan. Anggota AJ Nungki Kusumastuti, salah satu maestro seni tari Indonesia, juga menyampaikan pandangannya terkait pengembangan seni budaya dala mewujudkan Jakarta sebagai Kota Global sekaligus Pusat Perekonomian Nasional. Sedangkan anggota AJ Bambang Harimurti berharap, orang miskin bisa kuliah di IKJ atas dukungan Pemprov DKI Jakarta
Upacara pengukuhan anggota AJ, itu dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan Mochamad Miftahulloh Tamary, sejumlah kepala dinas dan pejabat di lingkungan Pemprov DKI Jakarta, Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Bambang Prihadi, Wakil Rektor Institut Kesenian Jakarta, Suzen dan , Koordinator dan anggota Staf Khusus Gubernur.
Usai pengukuhan, Gubernur Pramono Anung mengajak Ketua dan anggota AJ melihat sejumlah koleksi seni, khasnya lukisan di berbagai ruang yang biasa digunakan untuk menerima tamu dan ruang kerjanya. Ruang-ruang Balai Kota yang berisi karya seni para seniman maestro Indonesia. Ia juga memberikan bukunya untuk AJ, IKJ, dan pelaku seni yang diterima Nungki Kusumastuti. | bangs
