Pada HAWANA 2026, Anwar Ibrahim mengulang ingat apa yang dikemukakannya pada puncak acara HAWANA 2023 di Ipoh -Perak ihwal reformasi yang diusungnya. Ia kemukakan, “Reformasi yang ingin kita wujudkan bukan hanya soal memberlakukan kebijakan baru, tetapi juga keberanian untuk menerima keberatan, mempertanyakan kebiasaan, dan membuka ruang bagi terbentuknya ide-ide yang sehat.”
Catatan Iasha
HAWANA (Hari Wartawan Nasional) 2026 yang diselenggarakan di Pulau Penang yang juga berjenama sebagai Pulau Mutiara, Sabtu (20.06.26) berlangsung semarak.
Pada puncak acara Perdana Menteri X Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan pidato yang kaya informasi ihwal perubahan, namun yang mendapat tepukan adalah penyataan elementernya ihwal bantuan kepada wartawan dan inovasi media. Ia menukil ihwal ‘Pengadilan Socrates.’
Menurut penyelenggara, tak kurang dari 1000 wartawan dari seluruh negeri di Malaysia hadir pada upacara puncak. Perdana Menteri (PM) X Anwar Ibrahim menjadi pembicara utama pada kesempatan itu.
HAWANA2026 menabalkan mengusung tema “Kewartawanan Era Baharu: Keseimbangan AI dan Etika,” dalam sesanti, “Media Berintegriti, Teras Kredibiliti.”
Sejak diselenggarakan di Kuala Lumpur, 2018, HAWANA merupakan bentuk pengakuan dan apresiasi tertinggi kepada wartawan dan para praktisi media di Malaysia.
Media (pers) dipandang sebagai perantara yang sangat penting dalam pembangunan dan persatuan negara serta kesejahteraan rakyat. Perannya mencakup semua bidang yang melibatkan masyarakat termasuk ekonomi, politik, pendidikan, hiburan, agama, sains, teknologi, kesejahteraan dan kesehatan manusia, lingkungan dan ekologi.
Kini, di tengah zaman yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi, digitalisasi, transisi energi, dan kecerdasan buatan – akal imitasi (AI), pers dan wartawan tidak dapat sepenuhnya mengabaikan tulang punggung negara beradab, yaitu nilai-nilai, norma dan resam budaya berpunggung etika dan perilaku.
Sejak HAWANA 2023 di Ipoh – Perak, PMX Anwar Ibrahim memandang penting untuk hadir secara langsung di puncak acara HAWANA.

Datuk Suhaimi Sulaiman salah satu penerima Anugerah HAWANA 2026 langsung dari PM X Anwar Ibrahim | fb_fahmifadzil
Kisah ‘Pengadilan Socrates’
Anwar Ibrahim meneruskan kesadaran PM IX Ismail Sabri Yakob yang menempatkan HAWANA sebagai peristiwa melakukan evaluasi dan monitoring bagaimana insan pers Malaysia menjawab aneka tantangan yang sangat beragam.
Di hadapan PM IX Ismail Sabri Yakob dan Menteri Komunikasi dan Multimedia Anuar Musa, para wartawan dan pers Malaysia memekikkan DeklarasI Melaka yang dibacakan oleh Datuk Ahmad Zaini Kamaruzzaman (Berita Harian, kini Presiden ISWAMI Malaysia), didampingi Pemimpin Redaksi (PemRed) Sin Chew Daily Kuik Cheng Kang; PemRed Sinar Harian Rozaid Rahman; PemRed Tamil Malar Daily Datuk M Periasamy; Redaktur MediaPrima Kamaruddin Mape, PemRed BERNAMA Khairdzir Yunus, PemRed Radio Televisyen Malaysia (RTM) dan PemRed Star Esther Ng.
Deklarasi Melaka 2022 berisikaberisi lima inti pernyataan sikap : kewartawanan dirawat dan diakui sebagai institusi negara, menghormati hak wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik, menjunjung undang-undang dan prinsip-prinsip rukun negara, kewartawanan bermartabat integritas, dan memerangi berita palsu.
Inti pesan dalam deklarasi tersebut adalah kewajiban bagi wartawan dan pers beroleh kebebasan dalam menjalankan tugas tanpa halangan atau hambatan dari pihak manapun. Hal demikian perlu dilakukan dalam konteks memelihara dan mengangkat martabat kewartawanan.
Deklarasi Melaka 2022 yang dibacakan Datuk Ahmad Zaini Kamaruzzaman pada puncak acara Hawana 2022, di Hotel Hatten, Melaka, Malaysia, Ahad (29/5), itu juga menyatakan,”… kewartawanan yang amanah dan bertanggung jawab merupakan aset penting dalam pembangunan negara dan bangsa.
Pada HAWANA 2026, Anwar Ibrahim mengulang ingat apa yang dikemukakannya pada puncak acara HAWANA 2023 di Ipoh -Perak ihwal reformasi yang diusungnya. Ia kemukakan, “Reformasi yang ingin kita wujudkan bukan hanya soal memberlakukan kebijakan baru, tetapi juga keberanian untuk menerima keberatan, mempertanyakan kebiasaan, dan membuka ruang bagi terbentuknya ide-ide yang sehat.”
Anwar Ibrahim pun menukil kisah ‘Pengadilan Socrates’ karya Isadore Feinstein Stone (1907-1989) yang mengangkat fakta bahwa kota Athena — tempat kelahiran Socrates — berkembang karena kebebasan untuk berdebat, berbantah, dan menguji setiap ide yang diajukan. Stone adalah wartawan investigatif dan sastrawan Amerika Serikat.
“Kebebasan sejati menuntut keterbukaan dan kesediaan kita untuk mendengarkan pandangan yang berbeda,” ungkap Anwar Ibrahim yang ‘piawai’ menjadikan forum ‘luah pikiran’ untuk membuncah pikiran-pikirannya ihwal perubahan reformasi, meski tanpa pernah jelas mengemukakan, bahwa reformasi merupakan jalan perubahan yang melelahkan dan bergerak menuju deformasi.

PMX Anwar Ibrahim menyaksikan pameran media HAWANA 2026 | fb_fahmifadzil
Penolakan Kebebasan Tanpa Batas
Kendati demikian, Anwar Ibrahim menyebut nama Lech Walesa (Solidarnosch) dan Václav Havel tokoh perbahan Cekosolvakia yang lantas menjabat Presiden Chech, kala negara itu terbagi dua dengan Solvakia. Lech Walesa (Polandia) diketahui luas sebagai satu-satunya yang berhasil mengelola reformasi sebagai jalan perubahan.
Mengawali pidatonya, Anwar mengemukakan, isu media berkaitan dengan isu kebebasan. Lewat kisah ilustrasinya tentang ‘Pengadilan Socrates,’ Anwar mengemukakan, ihwal perdebatan tentang dua pola pikir yang berlawanan.
Dalam konteks itu, ia mengingatkan peran media tentang bagaimana mendistribusikan pandangan kepada masyarakat, meskipun demokrasi terbatas pada saat itu, tetapi distribusi informasi tentu saja berkaitan dengan peringatan HAWANA.
“Karena betapapun benarnya pernyataan Socrates yang membela hak dan kebebasan, atau betapapun benarnya mereka yang menyangkalnya, karena bagi mereka isu keamanan nasional dan integritas sistem lebih penting daripada kebebasan individu,” ungkap Anwar.
Dalam pernyataannya, ini secara tersirat Anwar mengingatkan tentang tentang kebenaran yang akan dinilai dan dihargai berdasarkan informasi yang disampaikan. Karenanya, menurut dia, isu yang berkaitan dengan penyampaian informasi tentang kekuatan prinsip kebebasan yang dikemukakan oleh Socrates dan penolakan terhadap kebebasan tanpa batas menjadi penting.
Terasa, Anwar Ibrahim sedang mengirim pesan ihwal stabilitas politik, yang dihadapi dirinya dan pemerintahannya. Ia mengacu pada penelitian Stone atas pandangan para kritikus Socrates, yang mengungkapkan, bahwa perbedaan pandangan akan melebur, melemahkan, dan membongkar kekuatan sistem itu sendiri.
Anwar lebih jauh mengemukakan, karya Stone ‘Pengadilan Socrates’ relevan dalam konteks – khalayak Malaysia — karena pertama-tama membahas makna kebebasan, ruang dan keterbatasannya. Kedua, distribusi informasi. “Meskipun pada saat itu belum ada media sosial dan media cetak, distribusi informasi akan memberikan ruang dan pengaruh untuk menentukan masa depan Socrates,” cetusnya.
Dalam karyanya yang monumental itu, sebenarnya Stone membahas prinsip kebebasan yang harus ditegakkan… Jelas harus ada prinsip kebebasan yang tidak dapat diperdebatkan , tetapi juga harus memberikan ruang bagi mereka yang menentang kebebasan tanpa batas yang dapat menghancurkan sistem demokrasi yang ada di Athena pada saat itu.
Dalam pidatonya, itu.. selain cerita dia berjumpa Putin dan kunjungannya ke Turkmenistan.. yang mendapat tepuk tangan, hanya hal ihwal santunan pemerintah Madani Malaysia kepada kalangan wartawan dan insan pers.

PM X Anwar Ibrahim, Menteri Kominasi Fahmi Fadzil, Ketua Menteri Pulau Penang dan para insan media Malaysia | fb_fahmifadzil
Dana Inovasi Media
Khasnya, dana inovasi media sebesar RM30 juta, sumbangan untuk 773 wartawan, tabung kasih HAWANA sebesar RM1 juta. Tepuk tangan hampir bergemuruh, kala Anwar menyatakan pemerintahannya setuju dan bersedia mengeluarkan belanja sebesar itu untuk wartawan media.
Sejumlah nukilah Anwar yang menarik dan relevan dengan kerja utama wartawan dan pers dalam konteks keberadaannya sebagai pilar ke empat demokrasi dan penggerak perubahan masyarakat negara bangsa.
Pidato Anwar berisi pembelajaran tentang perubahan yang menarik, tak hanya dalam konteks mengelola perdebatan terbabit Socrates dan para pengeritiknya. Ia mengemukakan fase-fase perubahan peradaban Islam era Makkiyah dan Madinah awal masyarakat madani yang bertamddun.
Anwar juga mengambil amsal perubahan yang terjadi dalam konteks Revolusi Prancis — era Raja Louis — yang terkait dengan revolusi industri, pula ihwal kaum Jacobin dalam The Citizen. Ketika kini yang dikenali adalah netizen yang menyatukan seluruh warga di belahan bumi manapun.
Di sela pemaparan pikirannya, Anwar Ibrahim seketioka sempat menyinggung ihwal Johor dan Negeri Sembilan. Meski ia tak menguraikan, hal tersebut sudah menjentikkan isyarat ada kegusarannya tentang dua negeri itu.
Menteri Besar (MB) Johor, Datun Onn Hafiz Ghazi telah mendeklarasikan sikapnya akan Barisan Nasional (BN)/ UMNO akan bertarung solo di seluruh daerah DUN dalam Pilihan Raya Negeri mendatang (PRN).
MB Johor yang juga Ketua BN/UMNO Johor, itu juga menyatakan tak sudi ‘duduk satu meja’ dengan DAP (Democratic Action Party). Merespon Datuk Onn, Presiden BN/UMNO yang juga Wakil Perdana Menteri Zahid Hamidi mengaminkan. Bila Johor sudah menyatakan demikian, Negeri Sembilan juga akan menyatakan hal yang sama.|
