N. Syamsuddin Ch. Haesy atau Bang Sem, menulis puisi agak rajin sejak SMA awal dekade 70-an. Bercita-cita jadi penyair, tapi belum kesampaian, meski puisi-puisinyas terbit dalam beberapa buku: Soneta Rumah Bocor, Di Balik Layar Televisi, Bulan Selesma, eÇatri, Jangan Jual Surga Ini, Renjana Tanah Bertuah, Semenanjung Cinta, dan berbagai antoloji puisi. Awal Dekade 1990-an memproduksi puisi videotik bertajuk Suara dari Pedestrian. Selebihnya banyak menulis puisi dan mempublikasikan lewat platform media sosial, seperti Sajak Kursi Goyang, yang belum terpumpun lagi untuk dipublikasikan. Pernah memandu acara Penyair Penyiar – Radio Muara, awal dekade 1990-an. Puisi-puisi berikut ini, adalah sebagian kecil dari sejumlah puisinya sepanjang perjalanan ke Danau Toba, bulan Juni 2023 bersama Prof. O.K Saidin, Faris, Ilham Bintang dan Asro Kamal Rokan | redaksi
Puisi Puisi N. Syamsuddin Ch. Haesy
Danau Toba
danau ini tak cukup luas
menyimpan cinta-Mu
namun terlalu luas bagiku
memaknai hakikat cinta-Mu
owh.. bukit-bukit memagari hampar misteri
pada lekuk liku punggungnya
tersedia ruang renung
belum pandai aku mengeja
seiap huruf dan aksara-Mu
tentang semesta
tentang insan
tentang ilah
tentang Allah
tentang
cinta
(parapat, 20.06.23)
Daras Awal
kudengar adzan menggema
merayap di hampar tenang danau toba
angin dingin mengiring do’a
munajat menghantar senja
tak kan usai kudaki hakikah
sedang syari’at masih terbata kueja
tapi Kau hamparkan tariqah
jalan menuju-Mu
jalan mencapai makna
kemerdekaan sejati
kemerdekaan insaniah
sublim dalam kemerdekaan ilahiyah
hingga kelak
tiba pada Allah
puncak ma’rifat
ooo Allah
semesta ada
karena ada-Mu
(parapat di persinggahan malam, 20.06.23)

Bersama Prof. OK Saidin, Asro Kamal Rokan, Ilham Bintang, dan Faris di Parapat | dok. pribadi
Ting
gigil tubuh di penghujung malam
sujud belum lagi sempurna
gelap menyergap
lunglai aku
gigil tubuh di menjelang fajar
rukuk masih lagi goyah
i’tidalku terganjal pedih
berulang syahadat diucap dalam sendat
keringat dingin
membasah kening
selimut malamku do’a
beku dalam keterasingan
senyap
hening
ting !
(parapat, jelang subuh, 21.06.23)
Esperanza
semburat merah langit
pinus berbanjar sepanjang bukit
embun kah masih tersisa
menutup pandang danau-Mu
adzan yang kumandang kemarin
menghantar senja menjemput malam
adzan lirih
mengusir perih rindu
dan malam
mengusir gulana
terpaut rindu ibu bapa
terpaut kangen anak, mantu dan cucu
terpaut rindu gelora kasih nan jauh
kubayar dengan munajat cinta
menjemput matahari
shabahul khair shabahus suruur
mentari bergulir lambat
penanda tuk mengingat
hidup mesti senantiasa punya arti
tanpa harus dimengerti
(parapat, 21.06.23)

Monumen yang merekam peristiwa pertemuan delegasi Indonesia dan Malaysia yang dipimpin Jendral Maraden Panggabean dan Tun Dr. Ismail pada Sidang Komite Perbatasan Indonesia – Malaysia | semHaesy
Percakapan Pagi
(kepada: OKS, AKR, IB, F)
aku memaknai setiap aksara terangkai kalimah
mengalirkan hikmah ditingkah mauidzah
inilah percakapan pagi menghimpun kesadaran
keyakinan hidup dalam qana’ah
keberanian mengeja dan membaca hikmah
seperti sejuk udara dan indah semesta
membuka tirai, menawarkan penanda
keteguhan imani daya gerak pikir melesat
menjangkau kaki alif ilmu
inilah percakapan pagi sepenuh hikmah
memaknai makna rahmah
rahasia bilangan usia
pada senyum bekulum-kulum
pada tawa tak tersedak sendawa
kita mengeja
hakikat insaniah
menjadi sebenar manusia
berbekal nalar, naluri, nurani, rasa dan dria
(parapat, 21.06.23)

Tepian Danau Toba – Parapat, di bawah tempat persidangan pertama Indonesia – Malaysia membahas perbatasan kedua negara, tahun 1970-an | semHaesy
Telangkai
lekuk-liku tubuh alam
semangat pencarian makna hayati
menghantar tiba di tepian danau Toba
air tenang tak terusik angin
buah mempelam bergantung di ujung dahan
mungkin dulu
bung karno, haji agus salim, dan sjahrir ada di sini
tidak untuk rehat menikmati semesta belaka
memadu pikir mengolah gelora hati
menegak muru’ah bangsa
harus merdeka
tidak untuk kebebasan semata
kemerdekaan sejati
untuk memadu cita kebangsaan
menjulang Indonesia Raya
di sini, di tepian danau penuh sejarah peradaban insan
kesepahaman bangsa sebati disepakati
memaknai sempadan bukanlah batas
tapi garis sambung
pumpunan kesadaran tentang sejarah
bangsa ditebas penjajah berpisah negara
monumen lusuh tegak di laman
di tepian jalan kebudayaan
narasinya tak lagi terbaca
semangatnya kupahami
dan kita memeliharanya
menjadi telangkai
dua saudara dua negara sebati bangsa
mengenang kelak bangkit berjaya
Melayu Raya di jazirah bangsa-bangsa perkasa
(parapat, 21.06.23)

Air Terjun Sipiso-piso di desa Semalem | semHaesy
Sipiso-piso
Sipiso-piso pada pagi
mengucur deras air terjun runcing
jatuh berlatar tebing
lembah curam
di sini aku berdiri
merangkai pikir
menggumam dzikir
mata memandang insan lena
rehat dalam lelah kerja
bocah kecil lesu wajahnya
Sipiso-piso pada pagi
menghantar jarak kekayaan semesta
berbanding kemiskinan jelata
kita ada di antaranya
kulihat orang-orang mematut gaya
merekam kenangan
dengan senyum
melepas dahaga sekejap
kita harus terus mengulang kaji
hakikat cinta antar sesama, semesta dan Tuhan
(simalem, 21.06.23)

Lembah di desa Simalem, salah satu tepian Danau Toba | semHaesy
Pagi di Tongging
dekap dingin puncak Tongging
di laman berhias bunga
bukit Punggung Unta
menjaga danau Toba
pokok-pokok pinus
lembah nun jauh
asap perambah hutan membuka ladang
menghalang pandang
lelahku berangsur pergi
bersama racau dan batuk semalaman
di bawah mentari pagi
kita berbincang tentang daya kesadaran
merawat lingkungan semesta
tak terlahap birahi industri
tak terlumat birahi kuasa tahta dan harta
di laman Simalem Resort
kita bicara tentang hakikat hak dan kewajiban
kreativitas dan inovasi penanda pemimpin insani
tak sekadar renovasi mengolah destinasi orang melancong
tak sekadar angka-angka investasi
tentang kesadaran merawat ekologi
melebihi segala hasrat dan keinginan
pada kuasa negara
mengalir amanah
merawat semesta
sebelum tiba petaka
(simalem, 22.06.23)

Seorang pedagang tempatan rehat di mobil, melepas lelah di lokasi titik pandang air terjun Sipiso-piso |semHaesy
Obsesi
tak kudengar lagu ‘tangis teriluh’
melintas jalan liuk meliuk
biarlah sansai dan lara tertinggal
dalam cerita pilu masa lalu
tenggelam ke dasar danau Toba
kini masa melepas asa terbang ke angkasa raya
bersama cinta dan pengharapan
tak kudengar lagu ‘tangis teriluh’
mungkin air mata bersekutu dengan peluh
terburai di hampar ladang menghilangkah keluh
merasuk ke dalam hamparan bukit dan lembah
kini lah masa berpikir tentang kesadaran tersimbah
menanam diri di ladang-ladang
meski sekali sekala boleh meradang
ketidak-adilan yang datang
melintas jalan meliuk-liuk
melewati gajah bobok
membawa semangat kini dan esok
mewujudkan bara semangat lampau
menghitung ulang harta dirampas penjajah
yang baru tersedar
mengakui kedaulatan
sudah semestinyalah tak kudengar lagu ‘tangis teriluh’
924 purnama telah terlalui
kita mengenangkan darah, airmata, peluh dan keluh
meresap di tanah air
tuk memaknai hakikat
bangsa sungguh merdeka
kita mesti ambil hak kita pada mereka
yang dulu datang menjelajah dan menjajah.
(simalem – sipiso-piso, 22.06.23)
