Relasi Aksi Kamisan dengan Dimensi Kedalaman Manusia STA

Dalam suasana petang penuh makna, itu Karlina mengemukakan, “Di titik inilah kebudayaan progresif yang dicita-citakan oleh STA menemukan wajah baru — bukan sebagai wacana para pemikir di atas kertas dan ruang akademik, melainkan terutama sikap budi (state of mind) yang diwariskan turun-temurun. Barangkali di situlah berlangsung pertemuan yang paling jujur antara pemikiran STA dan kesaksian yang akan kita dengar sore ini: bahwa kebudayaan sejati diuji dan ditempa di jalanan, di pelataran pasar, di berbagai ruang publik tempat kita membuat pilihan-pilihan hidup yang akan membawa kebaikan hidup bersama dan memperdalam kemanusiaan kita.”

catatan Delanova

Teater Arena terbuka Tuti Indra Malaon di sudut belakang Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin (27/7/26) menjadi titik persinggahan penuh makna. Senja yang sekap terasa panjang dan bermakna. Khasnya untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan sederhana di tengah zaman yang sungsang, zaman yang menyeret manusia ke dalam kubang kehidupan yang tak pasti, gamang, ribet dan terbelah. Zaman yang kerap disebut sebagai “post trust.”

Pertanyaan, itu adalah “Kapan kita menyelami pandangan dan pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana (STA) tentang dimensi kedalaman manusia ?”

Program Akademi Jakarta “Kuliah Kenangan STA,” yang  pertama kali disampaikan di ruang terbuka itu seolah menjawab pertanyaan, itu. Tak hanya konteksnya dengan lakon kehidupan tragis, tragedi kemanusiaan di tengah himpitan kuat rezim kekuatan politik represif (1998). Lakon kehidupan yang selama ini, “mengabadikan pertanyaan tanpa jawaban.”

“Kuliah Kenangan STA” kali ini menghadirkan pembicara Maria Katarina Sumarsih ibu salah seorang korban Tragedi Semanggi I (13 November 1998), yang konsisten setiap Kamis, selama tigha dekade melakukan ‘aksi Kamisan’ di seberang Istana Merdeka selama hampir tiga dekade.

Khalayak tekun menyimak dengan sekali sekala memberi applause, karena pemikiran yang meluahkan hakikat dimensi kedalaman manusia dalam pemikiran STA, tersaji apik.

Sejak seluruh rangkaian acara yang diawali dengan sajian Paduan Suara Gitaku ( dengan beberapa lagu: Gita Buat Ibu, Mars Kamisan, Himne Ingatan Melawan Lupa) dan pembacaan puisi Zefry Alkatiri  (Sampai Kamisan Keberapa?).

Lantas, cindai penutup pandangan STA tentang dimensi kedalaman manusia disingkap oleh Wakil Ketua Akademi Jakarta, Karlina Supelli,  seorang Astronom dan Failasuf, yang juga dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

Karlina Supelli menyajikan pengantar kuliah dengan pesona persona kecerdasan budaya yang elegan. Ia mengawali dengan membacakan beberapa larik karya puisi STA “Tebaran Mega” yang ditulis 10 Mei 1935. Begini :

Bertiup, bertiuplah topan!  / Liukan, lengkungkan, patahkan, hempaskan jangan sepala.  / Terbangkan daun sampai ke langit.  / Tundukkan puncak menyembah bumi,  / Serakkan ranting menabur tanah.  / Biar mengaduh, biar mengeluh, biar mengerang putus suara, Kacaulah perdu, adulah pohon, rusak remuk berpatah-patahan, Gugurkan buah segala, tua muda jangan dihitung.  // Apabila topan sudah berhenti, / Apabila hujan reda kembali, sinar suria turun ke tanah. / Beta melihat tunas memecah dan di tanah lembah kecambah mengorak daun.  // 

Paduan Suara Gitaku menyanyikan sejumlah lagu: Giat buat Ibu, Mars Kamisa, Himne Ingatan Melawan Lupa | AJ

Keberadaban dan Kebajikan

Dalam pusaran duka yang mendalam, Sutan Takdir Alisjahbana (selanjutnya: STA) menerbitkan Tebaran Mega, kumpulan puisi yang menggambarkan badai batin dalam perkabungan kehilangan istri tercinta pada tahun 1935. Di larik-larik terakhir, ia menemukan harapan: sesudah topan reda, tunas pecah dan kecambah mengorak daun.

Karlina mengemukakan, Tebaran Mega menghadirkan paradoks yang paling manusiawi: makhluk yang rapuh sekaligus berdaya; yang dapat terluka, merasa hancur, menangis, tetapi mampu bangkit untuk menjalani hidup dengan segala upaya dan kreativitasnya.

Ia menyebut, “Kumpulan puisi tahun 1935, adalah catatan perjalanan dari air mata menuju doa, dari doa menuju kekuatan untuk tegak berdiri.”

Dari kebangkitan pribadi itu, ungkap Karlina, tumbuh pemikiran besar STA tentang bangsa yang — pada tahun itu juga, 1935 — ditandai dengan Polemik Kebudayaan; suatu perdebatan besar yang dipicu oleh STA tentang ke mana arah kebudayaan Indonesia perlu melangkah.

Intinya sederhana, tetapi berani : kebudayaan Indonesia tidak boleh sekadar menyambung dan membanggakan warisan masa silam, tetapi berani menjadi sesuatu yang baru, dinamis, dan progresif, sebagaimana bangsa-bangsa Barat pernah membebaskan diri dari kungkungan cara pandang lama demi mencapai kemajuan.

Dari polemik itu pula tumbuh cakrawala pemikiran yang lebih luas tentang masyarakat serta kebudayaannya berdasarkan nilai-nilai dan etika. Bila disederhanakan, tautan antara nilai dan etika itu dapat kita baca sebagai keberadaban dan kebajikan.

Menurut Karlina, “Pemahaman STA tentang kebudayaan sebagai penjelmaan kegiatan budi manusia dalam menanggapi persoalan-persoalan kehidupan dan nilai-nilai, memperlihatkan pentingnya nilai dalam pemikiran STA. Ia memperkenalkan enam gugus nilai (gugus nilai benar-salah; kemanfaatan/ekonomi; keagamaan; seni dan keindahan; kekuasaan/politis; dan solidaritas). “Dua di antara enam gugus itu, kekuasaan dan solidaritas, menemukan gaungnya secara kentara dalam kesaksian yang akan kita dengar sore ini dari seorang ibu yang kehilangan putranya,” tegas Karlina.

Dengan performa yang menyita perhatian khalayak, Karlina mengemukakan, “Samudra kata, seluas dan sedalam apa pun, tak akan pernah cukup untuk mengungkap duka seorang ibu yang kehilangan anaknya. Namun, seperti dalam Tebaran Mega, duka dapat bermetamorfosis.”

Ketua, Wakil Ketua dan Anggota AJ bersama Ibu Sumarsih dan keluarga korban Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II | delanova

Diam Adalah Sikap

Dengan nada yang ‘menghunjam,’ Karlina mengemukakan, “Kekuasaan yang semestinya melindungi justru merendahkan martabat manusia, melanggengkan impunitas, dan mewariskan kekerasan budaya mulai dari korupsi, pelanggaran HAM, sampai kebohongan publik. Terhadap wajah kekuasaan yang demikian, Ibu Maria Katarina Sumarsih bersama keluarga korban kekerasan negara lainnya menjawab dengan membangun solidaritas.”

Ibu Sumarsih kehilangan putranya, Bernardinus Realino Norma Irmawan dalam penembakan oleh aparat negara dalam Tragedi Semanggi I, 13 November 1998. Pada 18 Januari 2007, bersama keluarga korban lainnya, Ibu Sumarsih memulai Aksi Kamisan: berdiri diam di depan Istana Merdeka setiap Kamis sore dengan mengenakan pakaian hitam, membawa payung hitam sebagai lambang keteguhan mencintai manusia, dan potret anak-anak atau anggota keluarga yang menjadi korban pelanggaran HAM.

“Diam adalah sikap. Dari sikap inilah terbuka jalan kebudayaan baru berdasarkan nilai- nilai solidaritas dan cinta kepada kemanusiaan. Solidaritas itu menular: dari satu titik di depan Istana, Aksi Kamisan kini hadir di sekitar 60 kota di Indonesia, dari Ternate hingga Sumatera Barat, dari Kendari hingga Yogyakarta, di kampus-kampus, bahkan di kalangan diaspora dan generasi yang belum lahir ketika tragedi itu terjadi. Aksi diulang setiap minggu tanpa letih hingga kini sudah 19 tahun.”

Pada peringatan 28 tahun Reformasi, ungkap Karlina, sejumlah pelajar sekolah menengah ikut berdiri di Aksi Kamisan, berbaur di antara peserta berpakaian hitam. Seorang pelajar SMK Negeri 45 Jakarta, Dava Fadila, bertutur, “Sebagai anak muda, kita enggak boleh buta dengan apa yang terjadi.” Pelajar lain, Muhammad Azzam Maheva, mengakui bahwa Aksi Kamisan membuka matanya terhadap perjuangan yang belum selesai. Mereka tidak mengalami sendiri sejarah kelam itu, tetapi mereka memilih untuk belajar, mengingat, berempati, berbagi perjuangan menolak lupa dan mengupayakan keadilan.

Dalam suasana petang penuh makna, itu Karlina mengemukakan, “Di titik inilah kebudayaan progresif yang dicita-citakan oleh STA menemukan wajah baru — bukan sebagai wacana para pemikir di atas kertas dan ruang akademik, melainkan terutama sikap budi (state of mind) yang diwariskan turun-temurun. Barangkali di situlah berlangsung pertemuan yang paling jujur antara pemikiran STA dan kesaksian yang akan kita dengar sore ini: bahwa kebudayaan sejati diuji dan ditempa di jalanan, di pelataran pasar, di berbagai ruang publik tempat kita membuat pilihan-pilihan hidup yang akan membawa kebaikan hidup bersama dan memperdalam kemanusiaan kita.”

Ihwal kebudayaan sejati yang akan terus diuji dan ditempa di berbagai ruang kehidupan, itu tak kenal bilangan masa. Pernyataan dalam pengantar Karlina tersebut, seiring makna dengan puisi Jefry Alkatiri  “Sampai Kamisan Keberapa? (Aksi Kamisan depan Istana Merdeka),”  begini :

Di titik kumpul tengah kota / Kami datang lagi.  / Mengetuk. / Menunggu jawab.  / Dalam perkabungan panjang. / Ratusan surat bersama doa. / Sudah dilarungkan. / Agar amanat tetap terawat. / Meski di bawah atap awan gelap. / Tak lelah menunggu jawab / Entah sampai Kamisan keberapa?  / Sungguh ini bukan tragedi drama Yunani  / Jadi jangan simpan suaramu, kawan!  / Kami berdiri bersama. / Memupuk ingatan / Agar terus tumbuh dan menjalar. / Meski hanya sesaat. / Agar anak bangsa tak sampai tersesat.  / 2020 //  |

Posted in LITERA.