Kepahlawanan Sutan Takdir Alisjahbana

Bagi Anhar Gonggong, ada atau tidak ada pengakuan negara ihwal kepahlawanan, STA adalah orang Indonesia yang sangat banyak jasanya bagi bangsa ini. Karena STA tak hanya berkutat pada kebudayaan dalam pengertian minor: sastra dan seni.

Catatan J. Mudhriq Fadhillah

AUDITORIUM Universitas Nasional (UNAS) di Kampus Sawo Manila Pasar Minggu, petang (Selasa, 30/6/26) itu menggelar seminar nasional. Tajuknya, “Menelaah Jejak Kepahlawanan Sutan Takdir Alisjahbana (STA):  Kontribusi bagi Sastra, Bahasa, Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.”

Selain civitas academica UNAS, banyak kalangan khas, hadir sebagai peserta seminar. Terlihat, keluarga Sutan Takdir Alisjahbana, tokoh keluarga Pahlawan, Ibong Syahruzah (cucu Haji Agus Salim), Kepala Dinas Kebudayaan DKi Jakarta, anggota Akademi Jakarta dan anggota Dewan Kesenian Jakarta.

Hadir pula Menteri Sosial Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNAS. Penyair Taufiq Ismail, Sejarawan Anhar Gonggong, filosof dan akademisi Tommy Awuy, dan akademisi Sunu Wasono. Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang nama dan gambar wajahnya terpampang di spanduk dan backdrop, berhalangan hadir.

Ketua Penyelenggara, Nana Yuliana – Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra UNAS mengemukakan, Seminar Nasional itu digelar terkait dengan pengajuan Sutan Takdir Alisjahbana (STA)  sebagai salah satu penerima gelar pahlawan nasional tahun 2026, khasnya dalam pemajuan Bahasa Indonesia, Sastra, Kebudayaan dan Pendidikan. Kendati peran dan jasa STA kepada bangsa dan negara — yang kemudian bernama Republik Indonesia — melampaui itu semua.

Seperti pengantar Nana,  STA merupakan tokoh yang telah banyak berkontribusi dalam memodernisasi bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi Bahasa Nasional. Khasnya sebagai pemersatu bangsa Indonesia.

STA merupakan orang pertama yang menulis Tata Bahasa Indonesia dipandang dari sisi Indonesia pada masa pendudukan Jepang. Karya-karya STA dalam sastra, antara lain novel dan puisi membangkitkan semangat bagi para pujangga baru.

Pemikiran-pemikirannya tentang perspektif kebangsaan sebeum Indonesia Merdeka, antara lain melalui Sumpah Pemuda, menggugah berbagai kalangan dan memantik polemik kebudayaan. Dialektika atau dialog kebudayaan kritis yang menyemai dan menghidupkan ragam pemikiran tentang bagaimana budaya Indonesia dalam cara pandang futuristik.

Menteri Sosial Syaifullah Yusuf. “STA membantu bangsa Indonesia berpikir.” | eCatri

Ketua Akademi Jakarta Pertama

Nana menyatakan, di ranah pemajuan kebudayaan, STA juga tercatat sebagai orang pertama yang menjadi Ketua Akademi Jakarta, sebuah lembaga kebudayaan terhormat, yang kini setiap tahunnya menyelenggarakan ‘STA Memorial Lecture,’ sebagai bentuk penghormatan atas pemikirannya.

STA juga berjuang dalam bidang pendidikan pada saat pendudukan Belanda dengan mengajak banyak orang untuk memberi pelajaran dari pendidikan dasar dan menengah, hingga perguruan tinggi dan kemudian mendirikan Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK).

Tommy F. Awuy bercerita tentang peran STA dalam konteks pengembangan filsafat Nusantara (STA menyebutnya Bumantara). Takdir mengembangkan pemikiran-pemikiran yang rasional logis, mengacu pada pemikiran modernitas Barat pada masanya yang sungguhnya tetap berakar pada akar budaya Nusantara.

STA mendirikan sentra kebudayaan di desa Toyabungkah – Batur, Bali. Masyarakat tempatan mengalu-alukan dan merindukannya. Dari masyarakat lokal, Tommy beroleh informasi, bagaimana STA ‘memantik dan menggelorakan’ asa masyarakat yang mempautkan ekologi, ekosistem (tradisi, resam, kreativitas seni) dan ekonomi. Ekonomi kreatif dalam makna sesungguhnya.

STA tak hendak bangsa ini terjebak pada kedigjayaan dan keluhuran masa silam, karena hidup bergerak terus ke masa depan. Tommy, mengingatkan, STA menegaskan bahasa sebagai sesuatu yang utama dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan.

Sejarawan Anhar Gonggong, sambil mengacungkan buku pemikiran STA yang diterbitkan Akademi Jakarta pada masanya, mengingatkan tentang sikap dan tindakan STA dalam menghidupkan dan mengembangkan kreativitas bangsa.

STA lah, menurut sejarawan berintegritas, ini yang di tengah gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia, mengusik dengan pertanyaan: apa dan bagaimana Indonesia setelah merdeka.

Penyair Taufiq Ismail membacakan karya puisinya tahun 1930-an yang mengesankan rasa hotmatnya kepada STA | eCatri

Siasah Budaya STA

Bagi Anhar Gonggong, ada atau tidak ada pengakuan negara ihwal kepahlawanan, STA adalah orang Indonesia yang sangat banyak jasanya bagi bangsa ini. Karena STA tak hanya berkutat pada kebudayaan dalam pengertian minor: sastra dan seni.

STA merangsang dan menggerakkan pemikiran tentang kebudayaan dalam pengertian major: nilai, norma, pendidikan : bahasa, etika, ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, dan bahkan politik.

Dalam sesi panel diskusi yang dipandu Syafrizal Rambe, Sunu memandang, STA berperan sangat strategis dalam pengembangan pengetahuan bahasa, khasnua struktur – tata bahasa Indonesia. Dalam pandangan Tommy, STA menghadirkan ruang pemahaman ihwal struktur bahasa dan struktur logika.

Puteri STA, Tamalia Alisjahbana mengungkap banyak cerita tentang ayahnya dalam berbagai dimensi dan menyentuh. Terutama, ketika ia menukil momen dialog ketika STA muda dengan ibunya, saat hendak meninggalkan kampungnya di Natal – Sumatera Utara. Dialog optimistis tentang masa depan karena semesta (langit dan bumi) bakal mendukungnya.

Tamalia juga bercerita tentang bagaimana siasah budaya yang dilakukan STA menghadapi penjajah Jepang lewat karyanya ‘Kalah dan Menang.’ yang sangat mendalam.

Terkait dengan formalisma pengakuan negara atas STA sebagai pahlawan, semestinya tak terlalu rumit. Karena Presiden Prabowo Subianto, sejak awal kepemimpinannya sudah terinformasikan dan mafhum.

Pembicara dalam sesi panel diskusi : Tamalia Alisjahbana, Sunu Wasono, Tommy F. Awuy, Anhar Gonggong, dipandu Syafrizal Rambe | eCatri

Kepahlawanannya tak Diragukan

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul hadir tidak hanya dalam kapasitasnya sebagai petinggi negeri. Sebagai alumni UNAS dan ‘bersentuhan’ langsung STA, sosok yang sangat demokratis, egaliter, dan inklusif, ia merasakan secara nyata peran dan jasa STA dalam merawat Indonesia sebagai republik.

Ia mendukung usul agar STA dianugerahi gelar pahlawan nasional. Dari satu sisi saja, bahasa Indonesia misalnya,  menurut Gus Ipul, STA ‘amat sangat’ berkontribusi memperjuangkan bahasa Indonesia menjadi bahasa yang modern.

Gus Ipul menyatakan, dirinya berterima kasih dan mengapresiasi UNAS, terutama Fakultas Bahasa dan Sastra, yang telah mengisi forum ini sebagai ikhtiar akademik dan kebangsaan untuk menelaah kontribusi Sutan Takdir Alisjahbana.

Gus Ipul memberi ‘bold’ untik kosa kata “menelaah.’  Ia memberi isyarat komitmennya, karena prosedur sudah ditempuh, antara lain dengan penyelenggaraan seminar nasional tersebut.

Bekas aktifis (intra – ekstra universiter) yang masuk UNAS karena arah Gus Dur (Abdurrahman Wahid), Gus Ipul mengemukakan, mengkaji sosok Sutan Takdir tak melulu soal karya sastranya saja. Banyak gagasan besar yang diperjuangkan STA, yang berdampak pada bagaimana cara bangsa Indonesia berpikir.

Gus Ipul menyatakan, “STA dikenal sebagai sastrawan, ahli bahasa, pemikir kebudayaan, pendidik, dan pendiri lembaga pendidikan. Namun, bila seluruh perjalanan hidupnya dilihat sebagai satu kesatuan, kita menemukan satu hal yang jauh lebih besar, ia ikut membangun cara bangsa Indonesia berpikir,”

STA menjadi daya besar yang memberikan pemikiran majunya tentang bangsa ini. Jadi? Amat patut dan layak STA beroleh gelar pahlawan nasional. Kendati terlambat, tak mengapa.

Rasa hormat kita terhadap STA ‘tersentuh’ kala Taufiq Ismail membacakan dua puisi yang ditulisnya tahun 1930-an. Puisi yang menunjukan apresiasi terhadap begawan dari Natal, itu. Kepahlawanannya tak diragukan.| Cibinong 1.07.26

Posted in LITERA.