Membaca Lidah

Allahumma saddid alsinata bish shawabi wal hikmah | Ya Allah, luruskan lidah kami dengan kebenaran dan hikmah

Bang Sèm

[INI ungakapan hati seorang ayah kepada salah satu anaknya.]

BERBEDA dengan abangmu yang sejak beberapa bulan usianya sudah pandai mengoceh dan relatif cepat mengucap ulang sejumlah kosa-kata, kau relatif lebih lamban.  Aku cukup gusar.

Suatu hari kukunjungi temanku, dokter THT (telinga – hidung – tenggorokan). Aku kuatir kau mengalami hal yang sama denganku ketika kecil, mengalami stutter (gagap).

Aku sibuk dengan presumsiku sendiri, mengembarakan pendapatku, mengira-kira lidahmu mengalami persoalan. Tapi, sahabatku menanggapinya dengan senyam-senyum. “Bawalah anakmu ke sini,” katanya.

Begitu kubawa kau kepadanya dan dia memeriksanya, dia tertawa. “Lidah anakmu normal-normal saja. Tak ada yang perlu dikuatirkan.”

Pernyataannya itu mengingatkanku pada pernyataan dokter yang merawatku, kala aku masih kanak-kanak. Menurut cerita ibuku, nenekmu, kegagapanku terjadi karena pergerakan otakku lebih cepat dari pengucapanku.

Sungguh aku senang, karena dari pemeriksaan dokter yang lebih lengkap, ternyata kau tidak mengalami apa yang kualami ketika kanak-kanak. Pergerakan otakmu dan lidahmu, seimbang dan normal-normal saja. Sukacita itu kian kurasa, karena beberapa waktu kemudian, kau tumbuh sebagai anak yang bercakap-cakap dengan normal. Aku pun membaca lidah.

Bahkan, kau terbilang sebagai anak yang cepat sekali menyerap dan mengucap ulang kosakata. Meskipun satu dua kosakata yang menunjukkan benda, kau ucapkan dengan cara yang berbeda. Misalnya, “Tikus” kau sebut “Tikis.”

Kegusaraku tentang lidah, menjadi inspirasiku, ketika suatu malam, dalam perjalanan Jakarta – Bandung, melintasi lekuk liku jalan di kawasan Puncak. Sambil mengemudi, kudengar tembang lama, didendangkan penyanyi lama.

“Memang lidah tak bertulang, tak berbatas kata-kata.. tinggi gunung seribu janji, lain di bibir lain di hati.“

Aku tersenyum menikmati lirik lagu yang mengambil metafor tentang lidah, ini. Pikiranku mengembara.

***

Lidah dicipta Allah, tak sekadar menjadi alat pengecap dan pengucap, juga tak hanya sekadar men­jadi salah satu alat perasa, yang memungkinkan manusia membedakan manis, pahit, asin, dan hambar.

Pada situasi tertentu, ketika manusia kembali ke posisi dirinya sebagai hayawanun nathiq, lidah juga berfungsi sexual. Bahkan, pada perempu­an elok, lidah menjadi salah satu sex appeal, penyimpan sensualita.

Mungkinkah karena lidah tak bertulang dan sedemikian lentur untuk berkilah dan berdusta, lidah menjadi bagian dari anasir indrawiah yang menyebab­kan manusia terlontar ke kubangan sesat, menjadi alat untuk menista dan mencerca?

Padahal, melalui lidah ini, juga ditentukan kehormatan manusia. Melalui lidah yang multifungsi ini juga, Allah mengisyaratkan keutamaan akhlak. Karena melalui lidah, dapat terjadi resonansi dimensi kedalaman rasa, mengekspresikan simpati, empati, bahkan sikap antipati.

Melalui lidah, cinta dan kasih sayang bisa dialirkan, meredam kebencian, mengendalikan nafsu amarah yang bisa meledak sekali sekala, tapi juga secara tak terkontrol justeru sebaliknya.

Ketika berhenti di sebuah resto, di pinggir jalan antara Cianjur – Mandalawangi, selepas menyeruput kopi hangat, aku sempat bergumam:

“O.. sudah seberapa cakap dan cerdaskah kugunakan lidah untuk menciptakan kebajikan dan memproduksi kearifan? Sudah seberapa banyakkah kugunakan lidah untuk menebar kebajikan, memuliakan manusia, tanpa membedakan harkat dan martabat­nya? Sudah seberapa fasihkah, kuungkapkan kejujuran dan menghentikan ke­bohongan?”

Renunganku tak berhenti di situ. Bertahun-tahun lamanya, aku kerap merenungkan tentang lidah. Aku bertanya sendiri di dalam hati: Bagaimanakah aku mengelola lidah sebagai alat pengecap yang baik, sehingga lidah tak tersentuh oleh segala yang di­haram­kan Allah?

Aku belum dapat sepenuhnya menjawab pertanyaanku, meski selalu berikhtiar memperoleh rezeki yang halal lagi baik. Sering aku tercenung.

***

Suatu saat, ketika bermain-main denganmu, sengaja kujulurkan lidahku, dan kau menirukannya. Aku terkekeh. Ingat masa bocahku. Men­julurkan lidah untuk meledek (menggoda) teman. Aku pun ter­kekeh, saat mengingat, bagaimana lidah dijulurkan ketika dengan dokoh menjilati ice cream, seperti kau juga melakukannya.

Aku tersedak, saat menuliskan perilaku negatif banyak orang yang berinteraksi dengan kekuasaan, dengan mengambil metafor terkait lidah, “menjilat kekuasaan, atau penjilat penguasa.” Metafora ini sering kugunakan untuk menyebut mereka yang ingin memperoleh kedudukan dengan cara mengubah kebenaran menjadi pembenaran.

Meski jaman berbeda-beda eranya, tetapi tak pernah berkurang manusia menjilat ‘kaki-kaki kursi penguasa.’ Antara lain dengan cara, “Menyampaikan kabar dan pernyataan yang hanya menye­nangkan hati penguasa, lalu menyem­bunyikan hakekat kebenaran.”

Alangkah banyaknya lidah yang diubah menjadi sembilu, dipakai untuk mendera, me­nebar namimah, memicu adre­nalin kebencian, sehingga manusia cekcok, ter­adu-domba, terseret dalam friksi dan konflik, terjerembab dalam sengketa dan perang.

Alangkah banyaknya banyak lidah yang dirampas fungsinya, lalu dipaksa menjadi penyalur buruk sangka, ghibah, buhtan, dan fitnah. Seperti yang bisa kita saksikan, di panggung-panggung politik praktis dan kehidupan masyarakat.

Alangkah banyaknya lidah, yang diubah fungsi kebaikannya, hanya untuk memproduksi kawicaran (retorika) indah yang menyeret rakyat ke dalam jebakan fantasi, tetapi buruk ketika dilaksanakan. Terutama, karena lidah dirampas fungsi utamanya sebagai pengucap dan penyampai kebenaran.

Sadar dan tidak sadar, sebagai manusia, kita masih begitu sering menggunakan lidah untuk menyampaikan sesuatu yang nyaris jarang dan tak pernah kita kerjakan.

Di panggung-panggung politik praktis, terutama kala kampanye Pemilihan Umum, banyak sekali kita menyaksikan lidah dipergunakan untuk meng­agung-agungkan pernyataan diri para petinggi. Bahkan, secara historis, ada masa, ketika seorang pemimpin diagung-agungkan berlebihan, seolah – olah dirinya menjadi ‘penyambung lidah rakyat’, meski pada kenyataannya, lebih mengutamakan birahi kekuasaannya.

Dari masa ke masa, rezim kekuasaan ganti berganti, dan tak sepenuhnya para petinggi menjadi ‘penyambung lidah rakyat,’ bahkan tak sedikit yang menjadi ‘penyabung lidah rakyat.’ Terutama, ketika mereka tak kuasa dibekap birahi kekuasaan untuk mempertahankan obsesi kekuasaannya menjadi petinggi seumur hidup.

Aku berdoa, “O.. Allah, jarang sekali lidah ini, difungsikan sebagaimana fungsi yang Engkau tetapkan. Jarang sekali lidah ini diberi makna sesuai dengan hakekat eksistensinya sebagai bagian dari kesempurnaan manusia. Padahal, para rasul-Mu telah mengajari, bagai­mana cara terbaik menggunakan lidah. O.. Allah, terus ajari hamba, menggunakan lidah ini hanya untuk memuja-Mu..” |

 

Ilustrasi foto dengan bantuan ChatGpt

 

Posted in LITERA.